Kamis, 4 Juni 2026

Pelecehan Seksual 15 Santri di Pesantren di Aceh, Orang Tua Murid Minta Pindah Sekolah

Dalam pesantren AN tersebut lah, AI (45) dan MY (26) meminta 15 santrinya melakukan hal tidak senonoh. Komplek pesantren AN terdiri dari delapan ruma

Tayang:
Editor: Theofilus Richard
KOMPAS.com/MASRIADI
Puluhan orang tua santri mendatangi kompleks Pesantren AN, di Kompleks Panggoi Indah, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, Jumat (12/9/2019). 

TRIBUNJABAR.ID, LHOKSEUMAWE – Setelah peristiwa pelecehan seksual terhadap 15 santri oleh pimpinan dan guru pesantren di Lhoksumawe, Aceh, puluhang orang tua santri pun mendatangi pesantren AN untuk memindahkan anaknya ke sekolah lain.

Dalam pesantren AN tersebut lah, AI (45) dan MY (26) meminta 15 santrinya melakukan hal tidak senonoh.

Komplek pesantren AN terdiri dari delapan rumah yang disewa untuk kepentingan pendidikan para santri.

Sebagian dijadikan asrama, sebagian lagi dijadikan ruang belajar dan mengajar.

Di sana juga dididirkan madrasah tsanawiyah dan aliyah.

Tetapi, suasana di kompleks pesantren tersebut kini berubah. Puluhan orang tua santri tersebut datang untuk membawa pulang anaknya.

Sebagian lagi meminta kejelasan uang yang telah disetorkan sebagai biaya pendidikan anak ke pesantren tersebut.

“Anak saya sudah kelas tiga aliyah. Delapan bulan lagi sudah selesai. Bantu kami Pak, buat anak saya pindah dari pesantren ini ke sekolah lain. Tapi, saya tidak punya biaya. Kendalanya di biaya,” kata seorang ibu, yang tak mau menyebutkan namanya.

Pimpinan dan Guru Pesantren di Aceh Cabuli 15 Santri, Pondok Pesantrennya Dibekukan

Ucapan itu disampaikan kepada Kepala Hubungan Masyarakat (Humas) Pemerintah Kota Lhokseumawe, Muslem, yang datang mendengar keluhan orang tua wali.

Orang tua lainnya meminta agar uang yang telah diserahkan sebagai uang pangkal pendidikan bisa dikembalikan. Agar uang itu bisa digunakan untuk memasukan anaknya ke sekolah lain.

“Anak saya baru masuk tahun ini. Saya datang buat meminta uang kembali. Anak saya akan saya pindahkan ke sekolah lain,” sebut seorang bapak, tanpa mau menyebutkan namanya.

Kapolres Lhokseumawe AKBP Ari Lasta, dalam konferensi pers di Lhokseumawe, memperlihatkan barang bukti dan tersangka dalam kasus pencabulan 15 santri yang dilakukan pimpinan pesantren dan seorang guru di Mapolres Lhokseumawe, Kamis (11/7/2019)
Kapolres Lhokseumawe AKBP Ari Lasta, dalam konferensi pers di Lhokseumawe, memperlihatkan barang bukti dan tersangka dalam kasus pencabulan 15 santri yang dilakukan pimpinan pesantren dan seorang guru di Mapolres Lhokseumawe, Kamis (11/7/2019) (KOMPAS.com/MASRIADI)

Dua hari terakhir, tercatat 70 orang tua datang mengunjungi pesantren.

Di sana ada tim Pemerintah Kota Lhokseumawe yang mencatat keperluan orang tua santri.

Kepala Humas Pemerintah Kota Lhokseumawe, Muslem, menyebutkan saat ini masih mendata seluruh keperluan santri di pesantren tersebut.

“Misalnya, mereka mau pindah. Kita bantu administrasi pemindahan ke sekolah lain. Terpenting data dulu,” katanya.

Sumber: Kompas
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved