Warga Kampung Sekecengek di Batujajar KBB Terisolir, Terkepung Pabrik Berharap Ada Akses Jalan

Kampung Sekecengek, Desa Cangkorah, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB)

Warga Kampung Sekecengek di Batujajar KBB Terisolir, Terkepung Pabrik Berharap Ada Akses Jalan
tribunjabar/ery chandra
Akses jalan warga yang terisolir, di Kampung Sekecengek, Desa Cangkorah, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, Minggu (30/6/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Ery Chandra

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kampung Sekecengek, Desa Cangkorah, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), masih terisolasi akibat minimnya akses jalan, jembatan, hingga sarana transportasi umum.

Yang terdampak paling parah berada di RW 08, Kampung Sekecengek. Selama ini akses jalannya terisolir karena tak memiliki akses jalan untuk keluar masuk kampung tersebut.

Warga berharap kondisi yang telah berlangsung selama ini segera ditangani pemerintah setempat.

Dari pengamatan Tribun Jabar, hingga Minggu (30/6/2019), kondisi kampung tersebut terkepung oleh lokasi pabrik dan kawasan militer. Tak hanya itu jalan juga mengalami kerusakan parah.

Tokoh Kampung Sekecengek, Sulaeman (44) menceritakan pada 23 Desember 2018 mulai terasa akses jalan warga sukar untuk dilewati.

"Kalau dulu bebas sewaktu kami kecil. Tapi setelah ada pembangunan lapangan tembak sekitar 1997 mulai terasa warga sulit. Sekarang ini makin terasa dipersulit. Kurang tahu masalahnya apa," ujar Sulaeman, di Kampung Sekecengek, Minggu (30/6/2019).

Teriakan Persib Butut Menggema di Stadion si Jalak Harupat, Seusai Takluk dari Bhayangkara FC

Sulaeman mengatakan warga tak pernah melakukan protes sama sekali. Tetapi, mencari solusi persoalan tersebut dengan jalan musyawarah.

"Kami berharap ada akses jalan sendiri. Tolonglah pemimpin dari desa dan kabupaten bisa cari alternatif. Sehingga ketika warga akan kerja, ke rumah sakit, pendidikan, pasar dan lainnya tak menganggu," katanya.

Hal serupa disampaikan oleh Ketua RW.08, Desa Cangkorah, Cecep Sukandar (37) menuturkan wilayah yang terdiri dari RT 01 dan 02 sebanyak 203 kepala keluarga atau 611 jiwa tersebut membenarkan selama ini akses masuk dan keluar menuju kampung itu terisolir.

"Warga tak muluk-muluk permintaannya. Yang penting bisa keluar masuk jam berapa pun, tidak ada larangan. Seperti halnya desa lain," ujarnya.

Lima Aktivis RMS Ditangkap Polisi, Seorang di Antaranya Pensiunan PNS, Ini Dokumen yang Disita

Cecep mengatakan harapan dengan adanya akses jalan sendiri mempunyai tujuan yang positif. Sehingga meningkatkan kualitas ekonomi masyarakat. Apabila infrastruktur bagus.

"Karena mayoritas warga sini sebagai pekerja pabrik, petani, kurir loundry, kuli bangunan. Paling parah RT 01 yang repot keluar masuk," ujarnya.

Penulis: Ery Chandra
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved