Terkuak Cara Quick Count yang Nyatakan Jokowi Unggul dan Real Count Internal Prabowo, Apa yang Beda?
Terdapat perbedaan antara hasil quick count Pilpres 2019 yang dikeluarkan sejumlah lembaga dengan real count internal BPN Prabowo Subianto - Sandiaga
Penulis: Fidya Alifa Puspafirdausi | Editor: Fauzie Pradita Abbas
Metode sampling yang digunakan menggunakan tingkat kepercayaan 99 persen dengan margin of error 1 persen.
Margin of error yang dimaksud di metode ini adalah rentang kesalahan yang mungkin terjadi.
Artinya, nilai atau hasil akhir yang didapat bisa bertambah atau berkurang 1 persen.
Yunarto Wijaya mengatakan peluang terjadinya kesalahan sangat kecil apalagi yang dipakai adalah C1 plano.

Sebab, C1 plano bersifat absolut sehingga bila selama sampling dilakukan dengan cara benar maka peluang terjadi kesalahan sangat kecil.
"Kalau survei kemungkinan error-nya masih lebih banyak ketika kita membaca persepsi orang."
Survei juga bergantung pada waktu dilakukannya.
Perbedaan hari atau waktu survei akan berpengaruh pada hasilnya.
Meski sampel yang diambil 2.000 TPS, Yunarto mengatakan pihaknya sudah bisa mendapat gambaran ang merepresentasikan tingkat nasional.
Menurut Yunarto, quick count menjadi alat ilmiah untuk mengawasi proses perhitungan suara secara riil (real count).
• Hasil Real Count C1 KPU, Suara di 3 Wilayah Nyaris 100 Persen, Prabowo Salip Jokowi di Daerah Ini
"Quick count itu sebenarnya adalah membantu proses pengawasan hasil real count, yang lama, yang rentan terhadap kecurangan.
Itulah mengapa baiknya quick count ditayangkan langsung sehingga publik bisa ikut mengawasi.
Itulah mengapa quick count baiknya dilakukan tidak hanya oleh satu lembaga saja sehingga check and balances bisa terjadi, orang bisa membandingkan," katanya.
Sementara itu, pihak BPN Prabowo Subianto - Sandiaga Uno menggunakan real count.
Data yang didapatkan berasal dari foto formulir C1 yang dikirimkan oleh saksi di setiap TPS.