Jumat, 24 April 2026

Sejarah Gedung BI di Bandung, Arsitektur Bergaya Romawi-Yunani

Bangunan pertama berada di Jalan Perintis Kemerdekaan dan satunya berada di ruas Jalan Braga, tepat di depan Gedung Kertamukti.

Penulis: Cipta Permana | Editor: Agung Yulianto Wibowo
Tribun Jabar/Cipta Permana
Gedung Bank Indonesia 

Laporan Reporter Tribun Jabar, Cipta Permana

GEDUNG De Javasche Bank atau kini dikenal dengan nama Bank Indonesia cabang Bandung, merupakan satu di antara bangunan peninggalan pemerintah Hindia Belanda yang masih tegak berdiri kokoh hingga sekarang.

Bahkan, gedung yang berada di Jalan Braga Nomor 108, Kota Bandung tersebut kini telah bangunan menjadi cagar budaya, melalui Peraturan Daerah Kota Bandung No 19 lampiran No 18 tanggal 7 Agustus 2009

Menurut sejarah, sebelum menjadi sebuah bangunan utuh, De Javashe Bank terdiri atas dua gedung.

Bangunan pertama berada di Jalan Perintis Kemerdekaan dan satunya berada di ruas Jalan Braga, tepat di depan Gedung Kertamukti.

Gedung yang dibangun pada tahun 1909 itu menjadi Gedung De Javashe Bank ke-15 yang dibangun Hindia Belanda sebagai tindakan antisipasi meluasnya dampak Perang Boer (1899-1902) di Afrika Selatan.

Saat itu, militer Hindia Belanda khawatir dan mempertimbangkan untuk mendirikan tempat pelarian kekayaan ke pedalaman Pulau Jawa.

Kota Bandung yang berjarak lebih kurang 200 km dari Kota Batavia (Jakarta) dipandang sebagai lokasi paling ideal guna mewujudkan gagasan tersebut.

Gedung De Javashe Bank kemudian diambil alih pemerintah Indonesia dan diresmikan sebagai Bank Indonesia (BI) pada 1953.

Saat itu masih menggunakan gedung sementara AM Meertens, seorang pemegang buku/pimpinan pengganti dari kantor Javashe Bank cabang Yogyakarta, Solo, dan kemudian di Bandung.

Bangunan bercat dominan putih tersebut merupakan rancangan karya dari tiga orang arsitek ternama di zamannya, yaitu Edward Cuypers, Fermont, dan Hulswit yang didirikan pada 1915-1918 dengan gaya arsitektur Neo-Klasik (Electicism).

Bangunannya lebih indah dan apik dibandingkan beberapa bangunan sejenis yang ada di Eropa yang mempunyai nilai arsitektur bersejarah tinggi atau landmark.

Selain itu, mempunyai peranan besar dalam pembentukan ruang sebuah kota sehingga perlu dilakukan pencagaran agar keserasian tetap terpelihara.

Apalagi gedung ini merupakan contoh yang cukup berhasil dari gaya arsitektur Belanda campuran yang memiliki keindahan dan elemen bangunan yang tinggi berbentuk menara sehingga mudah dilihat dari jarak jauh, serta terletak dalam kawasan yang dilindungi, juga bersejarah.

Menurut pantauan Tribun, selain didominasi cat putih, bangunan itu memiliki terdapat beberapa pilar dengan tinggi sekitar 15 meter, dan jendela berukuran besar yang memiliki panjang lima meter dengan lebar dua meter.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved