Jalan Penghubung Dua Kecamatan Rusak, Warga Pasang Spanduk 'Selamat Datang Di Jalan Bubur Lemu'

Bahkan, pada barisan tanaman tersebut terdapat orang-orangan sawah yg berisi keluhan para warga yang mengeluhkan rusaknya jalan itu.

Jalan Penghubung Dua Kecamatan Rusak, Warga Pasang Spanduk 'Selamat Datang Di Jalan Bubur Lemu'
siti masithoh/tribun jabar
Kondisi jalan utama penghubung Kecamatan Gegesik dan Kecamatan Kaliwedi tampak rusak parah dan ditumbuhi sejumlah rerumputan, Sabtu (23/3/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Siti Masithoh

TRIBUNJABAR.ID, CIREBON - Jalan utama penghubung Kecamatan Gegesik dan Kecamatan Kaliwedi tampak rusak parah dan ditumbuhi sejumlah rerumputan.

Bahkan, pada barisan tanaman tersebut terdapat orang-orangan sawah yg berisi keluhan para warga tentang rusaknya jalan itu.

Selain tulisan pada orang-orangan sawah, di jalan itu juga terdapat dua spanduk yang berisi tulisan kekecewaan warga atas kondisi jalan tersebut.

"Selamat Datang Di Jalan Bubur Lemu Coklat".

Demikian bunyi salah satu protes warga dalam bentuk tulisan yang terdapat pada kaos orang-orangan sawah dilokasi tersebut.

Informasi yang dihimpun Tribun Jabar, warga yang menanam dan memasang tulisan tersebut kesal dengan kondisi jalan yang rusak parah.

Terlebih, saat ini intensitas hujan masih cukup tinggi. Sehingga, kondisi lubang jalan selalu tergenang air.

Kondisi tersebut diperparah dengan upaya yang diduga merupakan perbaikan sementara oleh pemerintah.

Sayang, perbaikan sementara itu dilakukan dengan mengurug lubang-lubang jalan menggunakan tanah merah bercampur batu kecil.

Saat tanah merah itu bercampur dengan air yang tergenang, membuat kondisi jalan jadi seperti bubur seperti diungkapkan warga melalui tulisan tersebut.

Kadmita (56), Seorang warga Desa Gegesik Kulon, Kecamatan Gegesik, menyebutkan, perbaikan jalan tersebut dilakukan setengah hati.

Menurutnya, sebelum diurug dengan tanah merah, jalan tersebut juga pernah beberapa kali diurug menggunakan batu koral.

"Ngurugnya tanggung, hanya satu mobil atau dua mobil. Jadi tidak lama juga hilang kena air," katanya saat ditemui di lokasi, Sabtu (23/3/2019).

Da juga menyayangkan pengurugan kembali jalan tersebut menggunakan tanah merah. Pasalnya, selain membuat kondisi jalan membahayakan pengendara, pengurugan juga membuat kondisi jalan menyempit sekitar 20 meter.

"Sebagian tanah merah masih dibiarkan menggunung ditepi jalan. Saya sih tidak tahu warga yang sengaja menanam rerumputan di sini," tambahnya.

Hermanto (43), seorang pengendara sepeda motor, mengatakan, kondisi jalan tersebut membuat dirinya merasa was-was ketika melintasinya.

Selain riskan terkena cipratan tanah encer, dia juga mengaku khawatir terjatuh karena kondisi jalan yang semakin licin.

Dia mengaku setuju dengan bentuk protes yang dilakukan warga lainnya itu. Pasalnya, niat baik memperbaiki jalan itu tidak mempertimbangkan situasi dan kondisi yang ada.

"Ya iya lah, masa diurugnya pakai tanah merah, jalan jadinya seperti itu," kata Hermanto.(*)

Penulis: Siti Masithoh
Editor: Ravianto
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved