Minggu, 3 Mei 2026

1.620 Orang di Sumedang Diduga Menderita TBC, Dinkes Baru Temukan 52 Persen Penderita

Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumedang hanya menemukan 855 orang terduga tuberculosis (TB) dan 44 positif TB atau hanya 52 persen dari total penderita

Tayang:
Penulis: Deddi Rustandi | Editor: Tarsisius Sutomonaio
net
Ilustrasi penderita tuberculosis atau TBC 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Deddi Rustandi

TRIBUNJABAR.ID, SUMEDANG– Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumedang hanya menemukan 855 orang terduga tuberculosis (TB) dan 44 positif TB atau hanya 52 persen dari total penderita.

Estimasi penderita tuberculosis di Sumedang mencapai 1.620 orang pada tahun 2018.

“Targetnya harus menemukan 80 persen penderita TB tapi sampai saat ini baru 52 persen yang ditemukan atau sebanyak 855 terduga TB dan 44 positif TB,” kata dr Reni Kurniawati Anton, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes, Jumat (22/3/2019).

Menurutnya, Dinkes melakukan skrining ke 9.729 orang yang tinggal di asrama, pondok pesantren, dan Lapas kelas IIB Sumedang.

“Kami melakukan skrining di 17 titik mulai asrama, pondok pesantren dan Lapsa Sumedang. Skrining dilakukan di tempat orang banyak berkumpul,” kata Reni.

Reni mengatakan skrining juga dilakukan ke rumah-rumah warga serta kontrakan berupa bedeng-bedeng. Dari hasil skrining dengan pertanyaan keluhan batuk, penuruan berat badan, dan sesak napas dirujuk ke puskesmas untuk diperiksa.

BREAKING NEWS: Ini Nama-nama Kepala Dinas di Kota Bandung Pilihan Oded, Ema Sumarna Jadi Sekda

Aher Tunjukkan Dua Jari, Deddy Mizwar Acungkan Jempol, Tetap Bersahabat, Pujian Pun Mengalir

“Dari 44 orang yang positif TB itu hanya 40 orang saja yang datang dan berobat ke puskesmas,” katanya.

Penderita TBC ini langsung diberi pengobatan gratis selama enam bulan. “Obat yang diberikan gratis dan harus terus diminum selama enam bulan tanpa putus. Penderita tinggal datang saja ke puskesmas untuk mengambil obat gratis,” katanya.

Disebutkan setelah dua bulan pengobatan maka pasien TBC itu tak akan menularkan penyakitnya ke orang lain.

“Penderita TB harus terus-menerus minum obat tanpa putus karena kalau terputus selama masa pengobatan itu, bakteri menjadi resisten,” katanya.

Penderita tuberculosis kebanyakan tinggal di rumah yang kurang higienis dan sanitasi lingkungan yang buruk.

“Petugas sempat mendatangi rumah warga yang menderita TB dan ternyata rumahnya tak memiliki ventilasi udara seperti jendela. Bahkan sampai dibuatkan jendela dulu supaya udara dan sinar matahari bisa masuk,” katanya. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved