Gerakan Hejo Garut: Berstatus Cagar Alam Saja Rusak, Kini Kamojang dan Papandayan Malah Jadi TWA

Perubahan status Kamojang dan Papandayan dari Cagar Alam (CA) jadi Taman Wisata Alam (TWA) masih jadi perhatian dan sorotan para aktivis lingkungan

Gerakan Hejo Garut: Berstatus Cagar Alam Saja Rusak, Kini Kamojang dan Papandayan Malah Jadi TWA
tribunjabar/firman wijaksana
Ilustrasi: Pengunjung berswafoto di menara pandang Taman Wisata Alam, Gunung Papandayan, Kecamatan Cisurupan, Garut, Senin (31/12). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Firman Wijaksana

TRIBUNJABAR.ID, GARUT - Perubahan status Kamojang dan Papandayan dari Cagar Alam (CA) menjadi Taman Wisata Alam (TWA) terus menjadi perhatian dan sorotan para aktivis Lingkungan di Garut.

Upaya tersebut bisa menjadi cara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk cuci tangan atas kerusakan yang terjadi.

"Hutan dan sumber daya alam di Garut sudah gagal dilindungi. Sekarang malah diubah menjadi TWA," ucap Ketua Gerakan Hejo Garut, Ratno Suratno, Selasa (29/1).

Menurut Ratno, dalam UU nomor 5 tahun 1990 ada sembilan kegiatan yang dilarang di kawasan BKSDA. Di antaranya perburuan, aksesibilitas, bertani, memanfaatkan sumber air, mencari madu, mengumpulkan jamur, rekreasi, mencari kayu bakar serta menggembala dan mencari makan ternak.

"Semua larangan itu untuk menjaga kelestarian alam. Tapi karena diubah, malah bisa merusak," katanya.

Ia melihat dua industri di bidang panas bumi, yakni Star Energy dan Pertamina Geothermal Energy memberi peran besar kepada kerusakan CA Papandayan dan Kamojang.

Ratno mengingatkan, kawasan Papandayan dan Kamojang menjadi kawasan strategis untuk dilindungi dengan status CA. Kawasan tersebut saat ini menjadi tempat berlindung tiga tipe vegetasi.

"Ada vegetasi kawah, hutan campuran dan padang rumput. Selain itu, kawasan tersebut juga menjadi habitat dari elang jawa yang hampir punah, lutung serta 16 jenis burung," ujarnya.

Di kawasan itu, juga menjadi hulu tiga sungai besar di Jawa Barat yaitu Cimanuk, Citarum dan Ciwulan. Menurutnya, sangat wajar jika terjadi penolakan.

"Fakta di lapangan kerusakan yang terjadi sangat sporadis. Kerusakan ini juga menjadi penyebab banjir bandang Cimanuk 2016 lalu,” katanya. (firman wijaksana)

Maskapai Penerbangan Ramai Hapus Layanan Bagasi Gratis, DPR RI Desak Kemenhub Tunda Kebijakan Itu

Gian Zola dan Kawan-kawan Akan Tantang Bhayangkara FC dan Arema FC

 


Penulis: Firman Wijaksana
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved