Waspada DBD

Kisah Petugas Juru Pemantau Jentik di Cirebon, Tiap Hari Berkeliling Kelurahan, Dibayar Rp 20 Ribu

Kisah petugas juru pemantau jentik di Kabupaten Cirebon. Tiap hari berkeliling digaji Rp 20.000 per bulan.

Penulis: Siti Masithoh | Editor: taufik ismail
Tribun Jabar/Siti Masithoh
Dewi saat mengecek jentik nyamuk Aedes Aigypti yang menyebabkan penyakit DBD di Blok Tuksaji, Kelurahan Babakan, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, Jumat (25/1/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Siti Masithoh

TRIBUNJABAR.ID, CIREBON - Matahari terbit membuat Sri Andewi (30), seorang kader juru pemantau jentik (Jumantik), bersegera keluar dari rumahnya.

Ia memakai tas selendang hitam dan membawa beberapa lembar kertas.

Satu per satu rumah di Blok Tuksaji, Kelurahan Babakan, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon diketuk perlahan-lahan oleh Dewi, sapaan akrabnya.

Saat mengetuk pintu warga, ia meminta izin untuk mendeteksi jentik yang ada di kamar mandi. Sebelum mengeceknya, Dewi mengeluarkan sebuah senter.

Senter diarahkan ke bak kamar mandi. Cahaya senter diarahkan ke setiap sudut bak mandi. Pekerjaan tersebut sudah dilakoni Dewi selama tiga tahun terakhir.

Setiap hari, minimal Dewi mengecek jentik di 20 rumah. Upah yang didapatkannya dari Puskesmas Sumber Rp 20 ribu setiap bulannya.

Jika ada jentik dalam bak mandi, Dewi segera mengambil jentik tersebut memakai saringan kecil dan dimasukkan ke dalam plastik.

"Meskipun gajinya kecil, tapi saya ikhlas dan sukarela. Ini itung-itung membantu warga menangkal penyakit," katanya saat ditemui di Blok Tuksaji, Kelurahan Babakan, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, Jumat (25/1/2019).

Dewi saat berjalan ke setiap rumah warga untuk mengecek jentik nyamuk Aedes Aigypti yang menyebabkan penyakit DBD.
Dewi saat berjalan ke setiap rumah warga untuk mengecek jentik nyamuk Aedes Aigypti yang menyebabkan penyakit DBD. (Tribun Jabar/Siti Masithoh)

Ibu dari tiga anak itu mengaku sangat mencintai profesinya. Ia juga ingin membantu suaminya, Kardiman.

Setelah mengecek jentik di sebuah rumah, Dewi langsung mencatatnya. Setelah selesai, ia melangkahkan kembali kakinya ke rumah warga yang lainnya.

"Senang kalau ada Bu Dewi, udah tahu pasti mau ngecek jentik karena sudah biasa," kata Sumina (58), seorang warga di Kelurahan Babakan.

Dewi mengaku, selain membantu warga terbebas dari penyakit DBD, ia dapat menjalin silaturahmi dengan setiap warga.

Selesai memeriksa bak mandi dan mencatat hasilnya, Dewi memberikan bubuk Larvasida dalam kemasan plastik kecil. Bubuk itu berfungsi menangkal nyamuk DBD.

"Ini pemakaiannya dimasukkan saja plastiknya ke dalam bak mandi, setelah sebelumnya dibolongi oleh jarum kecil. Kalau nyamuk memakan ini, mereka akan merasa pahit dan bisa mati. Makannya nyamuk tidak akan kembali," kata Dewi.

Dewi merupakan satu-satunya kader jumantik di Keluarahan Babakan. Di Puskesmas Sumber sendiri, ada sebanyak 10 jumantik.

Koordinator Program DBD Puskemas Sumber, Imam Rifai, mengatakan, untuk tahun ini, tidak ada kasus DBD yang ditemukan.

"Namun kami sudah sediakan obatnya, berjaga-jaga barangkali nanti ada. Selama tahun 2016, ada 20 kasus, tahun 2017 ada tujuh kasus, dan tahun 2018 tidak ada kasus DBD," kata Imam.

Nyamuk aedes aigypti yang menyebabkan penyakit DBD suka menggigit pada jam-jam tertentu. Nyamuk itu akan menggigit manusia sekitar pukul 07.00 WIB-10.00 WIB dan sore hari pukul 17.00 WIB-19.00 WIB.

Ikan Cupang Jenis Ini Bisa Melahap 80 Jentik Nyamuk dalam Satu Kali Makan

DBD Renggut Nyawa Bocah 5 Tahun di Cimahi, Tak Tertolong Meski Sudah Dirawat di ICU

Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved