Kisah Abah Entib, Keliling Bandung Berjualan Gula Aren walaupun Penglihatannya Terbatas
Pria berumur 76 tahun itu merupakan seorang penjual gula aren keliling yang memiliki keterbatasan penglihatan.
Penulis: Resi Siti Jubaedah | Editor: Yongky Yulius
Abah Entib lalu memisahkan uang hasil penjualannya, untuk membeli kembali gula aren dari pengepul, untuk ongkos pulang, serta untung yang ia hasilkan.
Abah mengaku dapat untung hanya Rp 50.000, setelah ia pisahkan untuk modal dan untuk ongkos.
Biaya tersebut ia gunakan untuk tiga hari ke depan.
• Kisah Sri Astati Nur Sani, Berjualan Tisu dan Keripik Biayai Anaknya yang Menderita Penyakit Langka
Abah berjualan selama tiga hari sekali, dengan rute berbeda yang sudah ia tentukan.
"Ka Rancakenal ti Talun, Ranca Indah, ka Pesona, ka Sapan Majalaya, terus ka Cileunyi, icalana 3 dinten sakali, kapungkurmah tiap hari, (ke Rancakenal dari Talun, Ranca Indah, ke Pesona, ke Sapan Majalaya, terus ke Cileunyi. Jualannya tiga hari sekali, kalau dulu tiap hari)," ujar Abah Entib.
Dia pun bercerita, dia tinggal bersama anak ke tiganya, Dahlan (30), di Leuwiliang, Kampung Bagus Rt 04/07, Desa Tanjung Wangi, Curung Cinulang, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung.
Abah Entib memiliki empat orang anak, namun anak ke satu dan ke duanya meninggal, sisa anak ke tiga dan ke empat, Dahlan (30) dan Tini (26).
Selama berjualan, Abah Entib tidak pernah tersesat lantaran banyak orang yang memberi petunjuk jalan, maupun mengantarkannya.
"Ti Cicalengka ka Cileunyi ngangge angkot, kadang aya nu nyandak, sok aya nu nyaah pang nuduhkeun, (dari Cicalengka ke Cileunyi naik angkot, kadang ada yang nebengin, dan ada yang ngasi petunjuk jalan)," ujar Abah Entib.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/abah-entib.jpg)