Abdul Moeis, Mengkritik Hindia Belanda, Mendorong Didirikan ITB, Hingga Diasingkan ke Garut
Presiden Joko Widodo melakukan tabur bunga di makam Abdul Moeis saat upacara Hari Pahlawan di TMP Cikutra? Siapa Abdul Moeis?
TRIBUNJABAR. ID - Presiden Joko Widodo memimpin upacara peringatan Hari Pahlawan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Cikutra, Sabtu (10/11/2018).
Di tempat ini Jokowi sempat menaburkan bunga di beberapa makam pahlawan, termasuk di makam Abdul Moeis.
Siapakah Abdul Moeis?
Dulu orang Bandung sering membaca kata Abdul Moeis atau Abdul Muis di angkot-angkot yang berseliweran di jalan.
Jika ingin ke Alun-alun Bandung, naik saja angkot jurusan Abdul Muis yang berarti Terminal Kebon Kalapa.
Setidaknya ada lima trayek angkutan kota yang menuju ke Abdul Muis. Jalan Pungkur juga dikenal dengan nama Jalan Abdul Muis.
Lahir di Sungai Puar, Agam, Sumatra Barat, Abdul Muis adalah seorang sastrawan, politikus, dan wartawan.
Dikutip dari laman wikipedia, Abdul Muis lahir tanggal 3 Juli 1883.
Sebagai sastrawan, Abdul Muis dikenal dengan karya terbesarnya Salah Asuhan. Novelnya ini pernah difilmkan di tahun 1972 oleh sutradara Asrul Sani dan diterjemahkan dalam bahasa Inggris.
Menurut laman Intisari, Abdul Muis juga pernah menjadi anggota Volksraad atau Dewan Rakyat Hindia-Belanda. Tak hanya itu, ia juga terkenal sangat keras terhadap Belanda.
Suatu kali Abdul Muis pernah “menghasut” para pemimpin lokal di Sumatra Barat untuk melawan Belanda. Bak gayung bersambut, hasutan itu ternyata direspons baik oleh para pimpinan tersebut.
Informasi ini diperoleh langsung oleh pemerintah kolonial Belanda lewat tangan W.A.C. Whitlau yang kala itu menjadi residen di Sumatra Barat. Whitlau mengabarkan, bahwa Abdul Muis, yang waktu itu juga merangkap sebagai anggota pimpinan Centrale Sarekat Islam, tengah mengadakan sebuah rapat di Padang pada 1 April 1923
Tujuan rapat itu jelas untuk menentang keberadaan pemerintah Kolonial Belanda yang ada di Padang. Hal itu tertera jelas dalam selebaran yang dikirimkan Whitlau kepada Gubernur Jenderal Fock.
Selain itu, Abdul Muis juga mengadakan rapat di Rumah Bola, Padang, pada 31 Maret 1923, bersama para penghulu dari 18 wilayah di Padang.
Gerak-gerik Abdul Muis tentu saja merisaukan Belanda. Sebagai imbasnya, pemerintah kolonial Hindia-Belanda mengeluarkan ultimatum supaya Abdul Muis dikeluarkan dari Sumatra Barat dan untuk selanjutnya dilarang tinggal di sana. (Petite Histoire Indonesia, Rosihan Anwar)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/abdul-moeis.jpg)