Minggu, 12 April 2026

Tradisi Cuci Karpet Masjid Setelah Lebaran Jadi Piknik yang Murah Meriah

Uniknya tradisi ini tak hanya dilakukan oleh DKM setempat. Para pencuci karpet ini datang dari berbagai

Penulis: Mumu Mujahidin | Editor: Tarsisius Sutomonaio

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Mumu Mujahidin

TRIBUNJABAR.ID, SOREANG- Seusai hari raya Lebaran, masyarakat Kabupaten Bandung memiliki tradisi unik, yang hingga saat ini masih tetap terjaga.

Tradisi unik tersebut adalah mencuci karpet masjid di saluran irigasi Cibeureum di RT 4/14 Kampung Sungapan, Desa Sadu, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung.

Kebiasaan mencuci karpet ini menjadi tradisi yang selalu dilakukan setiap setahun sekali. Ada yang melakukan seminggu sebelum bulan Ramadan, ada juga yang sehari setelah hari raya Idulfitri.

Tradisi cuci karpet ini biasanya dilakukan oleh pengurus Rukun Warga (RW), Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) dan remaja masjid.


Uniknya tradisi ini tak hanya dilakukan oleh DKM setempat. Para pencuci karpet ini datang dari berbagai kecamatan di seluruh Kabupaten Bandung semisal Katapang, Margahayu, Banjaran, Baleendah, Pameungpeuk dan lain sebagainya.

Bahkan DKM di Kota Bandung dan Cimahi juga ikut membudidayakan tradisi cuci karpet masjid ini, di antaranya Pasirkoja, Cimahi, dan Cigondewah.

"Setiap tahun memang selalu ke sini. Kalau nyuci karpet kan butuh tempat yang luas dan air yang banyak jadi kami bawa ke sini. Kalau di tempat kami (Katapang) air kan susah, tempat nyucinya juga tidak ada," tutur H Herdiana (65) pengurus DKM Masjid Miftahurrohmat, RT 4/10 Kampung Cijagra, Desa Cilampeni, Kecamatan Katapang, Kabupaten Bandung di lokasi, Rabu (20/6/2018).

Baca: Guru Spiritual Danau Toba Sebut Ada Hal Mistis di Balik Karamnya KM Sinar Bangun

Irigasi Cibeureum yang luas serta kondisi aliran air yang besar dan bersih dinilai sangat cocok menjadi tempat untuk mencuci karpet.

Tidak hanya dipakai sebagai mencuci karpet, sambil menunggu karpet kering yang dijemur di sekitar irigasi, para pengurus DKM dan keluarganya ini bisa bersantai di bawah pohon rindang sambil botram dan bercengkrama.

Para pengurus ini datang berbondong-bondong menggunakan mobil pikap yang berisi tumpukan karpet. Tidak hanya bapak-bapak dan kaum pemuda saja, anak-anak kecil bahkan ibu-ibu ikut serta meramaikan tradisi ini.

"Beda dengan nyuci di laundry, selain harus bayar juga memerlukan waktu beberapa hari. Kalau seperti ini kan menjaga silaturahmi, kebersamaan, dan kekompakan. Karpetnya juga cepat kering lumayan sambil botram," katanya.


Bahkan ibu-ibu ini biasanya selain membawa bekal dari rumah, tak jarang membawa bahan makanan lengkap untuk dimasak di sekitar.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved