Selasa, 5 Mei 2026

13 Mayat Teroris Surabaya Ini Terlunta-lunta, Belum Diambil Keluarga, Jika Tidak Diambil Akan Begini

Mengingat beberapa dari pihak keluarga dan warga menolak adanya pemakaman jenazah teroris di kawasan mereka.

Tayang:
Penulis: Ichsan | Editor: Ichsan
istimewa
Keluarga bomber Surabaya 

TRIBUNJABAR, ID - Sudah empat hari berlalu, sejak serangan bom di tiga gereja di Surabaya pada Minggu (13/5/2018) dan di Mapolrestabes Surabaya pada Senin (14/5/2018), belum ada seorang pun keluarga dari 13 pelaku yang tewas datang ke RS Bhayangkara, tempat para jenazah disemayamkan. 

Ke-13 pelaku yang tewas itu berasal dari tiga keluarga yakni keluarga Dita Oeprianto, Anton Febrianto, dan Tri Murtiono.

Pada peledakan tiga gereja, ada enam pelaku bom bunuh diri tewas di lokasi yang tersebar di Gereja Santa Maria Tak Bercela, GKI Diponegoro, dan GPPS Arjuno.

Kemudian berlanjut tiga korban tewas dari pasangan suami istri dan satu anak di Rusun Wonocolo Blok B Lantai 5, Sidoarjo.

Menyusul, tewasnya keluarga Tri Murtiono beserta istri dan dua anaknya pada peledakan di depan gerbang Mapolrestabes Surabaya.

Baca: Kenalkan Ayoub, Pria Kristen yang Bangunkan Warga Muslim untuk Sahur, Kisahnya Luar Biasa

Pascatewasnya 13 pelaku terorisme, menurut Kapolda Jatim, Irjen Pol Machfud Arifin, seperti dikutip dari Tribunjatim.com  belum ada keluarga yang datang untuk mengambil jenazah.

Mengingat beberapa dari pihak keluarga dan warga menolak adanya pemakaman jenazah teroris di kawasan mereka.

Salah satu contohnya dari keluarga Puji Kuswati (pelaku peledakan tiga gereja), yang menolak keras bila tersangka dimakamkan di Banyuwangi, daerah kelahirannya.


Pihak keluarga tidak menginginkan jenazah dimakamkan di Banyuwangi, karena Puji bukanlah warga Banyuwangi.

Meski dia memiliki hubungan kerabat dan orangtuanya juga tinggal di Banyuwangi, pihak keluarga tetap tak ingin jenazah dimakamkan di Banyuwangi.

Apalagi Puji sudah sejak lama berpisah dengan keluarga di Banyuwangi, dan diasuh oleh bibinya di Magetan.

"Belum ada keluarga korban yang datang untuk melihat ataupun mengambil jenazah yang sudah kita indentifikasi semuanya," kata Irjen Pol Machfud Arifin.

Keluarga mereka tak mau mengakui dan datang untuk mengambil jenazah para bomber dan terduga teroris tersebut.


Hingga hari Rabu (16/5/2018), tak ada seorang pun yang mau mengakui dan datang ke RS Bhayangkara Surabaya untuk proses identifikasi jenazah dan pencocokan data primer dan sekunder.

"Ini untuk ketiga kalinya, mohon supaya keluarga Dita, Anton dan Tri bisa hadir ke RS Bhayangkara," ujar Kabid Humas Polda Jatim Frans Barung Mangera.

Padahal, kedokteran forensik dan DVI RS Bhayangkara Polda Jatim, kata Barung sangat butuh data dari keluarga terduga teroris untuk mencocokan dengan jenazah.

"Ini terakhir, permohonan, nanti kami akan mengumumkan ke akun-akun resmi Polres jajaran," jelas Barung.

Jika tidak ada pihak keluarga teroris yang datang mengambil jenazah, maka jenazah akan dimakamkan oleh Polda Jatim.

Untuk saat ini, batas akhir dari keputusan Polda Jatim untuk melakukan pemakaman bagi 13 jenazah teroris ini adalah 7 hari.


"Tujuh hari kedepan lah, bisa koordinasi dengan Pemprov dan tokoh agama," kata Barung.

"Bila tidak ada keluarga yang datang dalam jangka waktu yang kita sediakan, maka kita akan kubur jenazah sesuai dengan agama mereka," tambah Irjen Machfud Arifin.

"Untuk lokasi pemakamannya akan kita siapkan," katanya.


Jenazah Puji Kuswati Diterima Warga untuk Dimakamkan di Magetan

Warga dan aparat Desa Krajan, Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan bersedia menerima jenazah Puji Kuswati, bomber di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Surabaya, bersama kelima anggota keluarganya, suami dan empat anaknya untuk di makamkan di pemakaman umum desa setempat.

Kepala Desa Krajan Mujiono mengatakan, bumi dan isinya merupakan milik Tuhan YME, sehingga pihaknya dan warga tidak punya hak untuk menolak jika keluarga Puji Kuswati dimakamkan di desanya.

"Itulah yang jadi pertimbangan kami dan warga d isini (Desa Krajan) bersedia menerima jenazah Puji Kuswati dan keluarganya," ujarnya kepada Surya, Rabu (16/5/2018).

Apalagi, sejak kecil hingga menempuh pendidikan di perguruan tinggi kesehatan di Surabaya, Puji Kuswati tinggal di Desa Krajan, bersama Pakde Rijan (80) dan almarhum Bude Sukar. Tepatnya di RT8/RW 2, Desa Krajan, Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan.


"Jadi bagaimanapun, Puji Kuswati warga kami, meski sudah lama berdomisili di Surabaya, tapi Pakde dan almarhum Budenya dini," jelas Mujiono.

Saat ini, pihaknya masih menunggu keputusan sepupu Puji Kuswati dari Jakarta.

"Jadi tidaknya dimakamkan di sini ya tinggal menunggu berita dari sepupunya itu," katanya.

Namun hingga kini, sepupu Puji ini masih belum memberikan keputusan soal setuju atau tidak Puji dan keluraga dimakamkan di Magetan.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved