Serangan Bom di Surabaya
Kata Mantan Teroris, Para Bomber di Surabaya Ingin Ajak Keluarganya Masuk Surga
Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Frans Barung Mangera mengatakan sudah ada 13 tangkapan yang berhasil dilakukan.
TRIBUNJABAR.ID, SURABAYA - Pascaledakan tiga gereja di Surabaya, pihak kepolisian terus berupaya keras mengejar jaringan teroris yang masih bersembunyi.
Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Frans Barung Mangera mengatakan sudah ada 13 tangkapan yang berhasil dilakukan.
Dari 13 tangkapan tersebut, empat di antaranya tewas karena melawan petugas saat proses penangkapan di kawasan Sidoarjo.
"Kita lakukan tindakan terhadap 13 orang yang akan lakukan teror. 4 orang kita tembak mati karena melawan petugas. lokasinya di Sidoarjo, termasuk Anton," kata Kombes Pol Frans Barung Mangera (14/05/2018).
Untuk 9 tangkapan lainnya, Kombes Pol Frans Barung Mangera menjelaskan, lokasi penangkapannya tersebar di Sidoarjo dan Surabaya dalam kondisi hidup.
"9 tersebar di Sidoarjo dan Surabaya. Total penindakan kita hari ini ada 13 orang. 9 ditangkap hidup dan 4 lainnya tewas," tutupnya di Media Center Polda Jatim.
Penangkapan di lakukan terkait usaha dari 13 tersangka untuk melakukan serangan di beberapa lokasi yang masih di rahasiakan oleh pihak kepolisian.
Baca: Muhammadiyah Tetapkan Awal Puasa Hari Kamis (17/5/2018)
Baca: Debat Calon Gubernur Jabar Ricuh Gara-gara Paslon Nomor Urut 3 Perlihatkan Kaus
Pengakuan Rektor Unair
Rektor Universitas Airlangga Surabaya menyebutkan pelaku bom bunuh diri di Surabaya punya Indeks Prestasi Komulatif (IPK) Cantik Semasa Kuliah Empat Semester.
Prof Muhammad Nasir, Rektor Unari menjelaskan, mahasiswanya bernama Dita Suprianto adalah mahasiswa yang tak sempat lulus.
Hal tersebut dikarenakan Dita ini memiliki cacatan pendidikan yang buruk karena mendapatkan IP 1,1 dan tak pernah dapat IPK lebih dari dua.
“ IPK mahasiswa ini (Dita) hanya 1,7. Kalau IP persemester itu cantik-cantik yakni 1,1 saja,” cetusnya.
Tak hanya itu, sebagai mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri (PTN) Dika harus memenuhi kuota mata kuliah dan IPK minimal 2,5.
Sebab, standart IPK selain sudah ditentukan oleh Kementerian Pendidikan pada waktuy itu.
Adanya standar IPK ini juga membuat alumnus mudah mencari pekerjaan.
Hanya saja, ayah empat anak yang bunuh diri satu keluarga dengan meledakkan bom ini tak pernah masuk kuliah.
“Gak pernah masuk kuliah dan IPK kecil apalagi SKS juga hanya 40. Jadi universitas memutuskan untuk mengeluarkan dia,” tandas Nasir.
Seperti yang diberitakan TribunJatim.com sebelumnya, Dita ini merupakan terduga pelaku bom bunuh diri di Gereja Pantikosta Pusat Surabaya (GPPS) di Jalan Arjuno, Minggu (13/5/2018) pagi.
Baca: Ada Bom Bunuh Diri di Kampung Halaman, Ahmad Dhani Ngambek, Kutuk Dalang Teror Bom Itu
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/ali-fauzi_20180324_193058.jpg)