Minggu, 19 April 2026

Misi Walet Hitam: Dari Ancaman Bom di Pasar Hingga 2 Peluru Bersarang di Tubuh Dr Azhari (2)

Polisi lantas meminta anggotanya di Semarang untuk memantau di terminal bus di Semarang.

Penulis: Mega Nugraha | Editor: Tarsisius Sutomonaio
Tribun Jabar/Mega Nugraha
Sampul buku "Misi Walet Hitam" 

TRIBUNJABAR.CO.ID- Dua belas personel CRT Walet Hitam akhirnya tiba di Batu, Malang, tanpa diberitahu apa misi mereka sejak mereka berangkat dari Jakarta, dua hari setelah Idul Fitri.

Misi itu masih rahasia. Ponsel milik mereka semua disita sementara.

Pada Rabu 9 November 2005, dini hari, petugas dikejutkan penghuni rumah target, Cholily meninggalkan rumah. Tim intel membuntutinya, sampai ke pasar.

Di sebuah pasar, tim intel kehilangan jejak Cholily. Ia diduga pergi ke Semarang. Polisi lantas meminta anggotanya di Semarang untuk memantau di terminal bus di Semarang.

Akhirnya, polisi menyergap Cholilu di Semarang.


"Kalian mendekat aku ledakkan bom ini," ancam Cholily sambil mengangkat salah satu tasnya. Iptu Ibnu yang memimpin penyerapan balas menghardik.

"Menyerah atau kuledakkan kepalamu. Cepat menyerah, turunkan semua senjatamu," ujar Iptu Ibnu.

Tidak berapa lama, muncul Hanif Solahidin dan Reno, keduanya ditugaskan Noordin M Top untuk menjemput di terminal di Semarang.

Sempat ada aksi tegang. Hanif ditangkap dan Reno melarikan diri.

Baca: Bhayangkara FC Juara Liga 1 tapi FIFA Sebut yang Juara adalah Bali United

"Saya disuruh menyerahkan tas berisi bom kepada Noordin M Top," ujar Cholily. "Lalu siapa yang ada di Batu, Malang," tanya Iptu Ibnu. Jawaban Cholily mengagetkan.

"Dr Azhari dan Arman," jawab Cholily.

Tidak mau kehilangan momen, polisi lewat CRT Walet Hitam langsung mengepung rumah tersebut.

Dua orang sniper, Brigadir Diaz dan Bripda Heri sudah pada posisinya, di sebuah atap rumah di dekat rumah target.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved