Ipda Agus Ariyanto, Polisi yang Sukses Membina Anak Usia Dini Menjadi Juara Bulutangkis
Prestasi di Jawa Barat sudah banyak. Sudah resmi dari PBSI, urutan empat atau lima se-Kota Bandung kategori klub pembinaan usia dini.
Penulis: Yongky Yulius | Editor: Ichsan
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Yongky Yulius
TRIBUNJABAR CO.ID, BANDUNG - Ipda Agus Ariyanto (52), sehari-hari bertugas sebagai Kanit Binmas Polsekta Antapani Bandung. Di tengah kesibukannya sebagai polisi, pria berkumis tebal ini secara telaten membina sejumlah anak di Atlas Badminton Club (PB Atlas). Klub bulutangkis ini ia dirikan sendiri dan menggratiskan biaya pelatihan bagi anak dari keluarga kurang mampu.
"Prestasi di Jawa Barat sudah banyak. Sudah resmi dari PBSI, urutan empat atau lima se-Kota Bandung kategori klub pembinaan usia dini. Ada sekitar 10 anak yang memiliki prestasi dari 80 anak yang sekarang kami didik," ujar Agus kepada Tribun Jabar, Jumat (3/11/2017), di kantornya.
Dari sekitar 10 anak itu, Agus menyebut nama Ester, anak didiknya yang lahir tahun 2005. Ester pernah menyabet juara O2SN Kota Bandung, juara tiga tingkat provinsi di Cirebon, dan juara satu antar klub tingkat provinsi di Lembang tahun 2017.
Baca: VIDEO: Skuat Persib Bandung Diangkut Pakai Barracuda Tiba di Stadion Manahan Solo
Tidak hanya itu, lanjut Agus, ada juga alumnus dari PB Atlas, bernama Setya Saptadi yang mendapatkan perunggu perwakilan nasional di kejuaraan badminton tingkat Asia Tenggara.
"PB Atlas juga pernah menyumbangkan atlet usia dini kita ke pelatnas dan sejumlah klub seperti klub milik Telkom. Kalau yang ke Telkom ada namanya Yudit, Dito, dan Noval," ujarnya.
Agus bercerita, bagaimana sulitnya PB Atlas melawan anak dari klub pembinaan usia dini lain yang sering memalsukan usia saat kejuaraan badminton digelar.
Jika Ingin Kembali ke Jalur Juara, Persib Bandung Kudu Datangkan Makan Konate! https://t.co/FUe3UsiMZZ via @tribunjabar
— Tribun Jabar (@tribunjabar) November 3, 2017
Menurutnya, kecurangan seperti itu masih terjadi di beberapa kejuaraan bulutangkis.
Namun, PB Atlas tetap jujur mengikutsertakan anak didiknya sesuai dengan kategori umur yang sudah ditentukan.
"Kita sampai melawan anak yang nyuri-nyuri usia. Usianya dipalsukan diturunkan. Masih banyak. Ini sudah kriminal pemalsuan dokumen negara. Nanti akan diumumkan jumlah pelanggarannya dari masing-masing. Kalau PB Atlas tidak pernah memalsukan dokumen," ujarnya.
Agus, mengatakan beberapa prestasi yang disabet anak didiknya tak lepas dari komunikasi yang baik yang dibangun olehnya.
Komunikasi itu, sambungnya, meliputi komunikasi antara orang tua, anak didik, dan pelatih.
"Tanpa ada komunikasi yang baik, prestasi itu tidak akan ada," ujar Agus.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/ipda-agus_20171103_150535.jpg)