Kisah Tan Malaka, Pernah Jadi Ketua PKI, Hingga Terima Surat Wasiat Bung Karno
Dia mewarisi sebuah pemikiran yang ditulis dalam beberapa buku, di antaranya yang berjudul. . .
Penulis buku Madilog yang hampir 3 tahun menghuni sejumlah rumah tahanan di Indonesia ini seakan-akan selalu berada di bahwa sebuah peristiwa besar.
Hanya sesekali ia muncul ke depan, seperti pada Kongres di Purwokerto, Jawa Tengah, Januari 1946 saat membentuk Pesatuan Perjuangan.
Partai Murba yang didirikan oleh kawan-kawan dekatnya pun tidak ia masuki.
Bahkan ketika terjadi pemberontakan PKI tahun 1926 yang gagal, dia sedang tidak ada di Indonesia, dan mengaku tak setuju dengan peristiwa itu. Sejak itu ia meninggalkan PKI dan aktivitasnya di asosiasi komunis internasional.
Tapi, tokoh bernama Sutan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka ini banyak dianggap sebagai tokoh yang sepadan dengan proklamator RI, Soekarno.
Tan Malaka banyak membaca dan belajar dengan Marxisme saat sekolah di Belanda. Saat itu ia juga tertarik dengan revolusi Oktober di Rusia yang dilakukan oleh Lenin.
Tahun 1919 ia kembali ke Indonesia aktif di beberapa pergerakan dan tahun 1921 dia menjadi ketua PKI.
Tapi, setahun kemudian dia diusir oleh kolonial Belanda dari Indonesia dan kembali ke Belanda dan hampir menjadi anggota parlemen dari partai komunis di Belanda.
Saat menghadiri Kongres IV Komintern (Asosiasi Komunis Internasional) di Moskow tahun 1923, dia mengkritik sikap organisasi ini yang anti-Panislamisme.
Tan Malaka menuntut agar kaum komunis mau bekerja sama dengan kelompok-kelompok muslim radikal.
Surat Wasiat Soekarno untuk Tan Malaka
Franz Magnis-Suseno menceritakan, peristiwa cukup misterius terjadi pada akhir September atau permulaan Oktober 1945 setelah ia kembali ke Jakarta dan bergabung dengan sejumlah tokoh kemerdekaan.
Dalam sebuah pertemuan, Soekarno melihat dan berbicara kepada Tan Malaka bahwa jika sesuatu terjadi pada dirinya, Tan Mala harus mengambil alih pimpinan revolusi.
Kemudian, pernyataan Bung Karno itu dibuat secara tertulis dalam sebuah surat yang kemudian disebut juga 'surat wasiat'.
Tetapi, Bung Hatta meminta agar sejumlah tokoh seperti Sutan Sjahrir, Iwa Kusumasumantri, dan Wongsonegoro juga dimasukkan dalam surat wasiat itu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/tan-malaka_20170927_160710.jpg)