HUT Kota Bandung
Metafor Munding Dongkol di Seni Bandung
Pertunjukan berdurasi 45 menit, menyita pandangan penonton untuk terus menyimak kejadian-kejadian yang tersaji di panggung.
Munding Dongkol sebagai mitos dan sifatnya diwariskan/diturunkan secara masif, tak jarang referen awal bermuatan sakral, karena di kebudayaan Sunda lama, dalam cerita Pantun khsusnya, nama-nama Munding (Kerbau) berulang disebut dan posisinya mendapatkan tempat yang istimewa, seperti Mundinglaya Dikusumah, Arya Munding Jamparing, Munding Jalingan, Munding Liman, Munding Wangi, Munding Jaya dll. Hewan munding dalam konteks paradigmatik Sunda lama bisa segaris-lurus dengan kesucian hewan lain seperti gajah, sapi, ular, burung dan hewan lainnya yang dianggap suci.
Berbeda dengan dengan apa yang dihadirkan Mang Hermana, Munding Dongkol justru dibentuk sebagai upaya desakralisasi mitos namun sekaligus mendongkrak sisi lain manusia yang ironis. “Siluman yang sebenarnya adalah sampah/limbah yang dibuang sembarangan (ke sungai). Dan Euis meninggal bukan karena ditumbalkan, melainkan karena terpeleset-jatuh”. Sampai disini pertunjukan mengajak penonton untuk tetap berpikiran jernih seperti air bersih yang diharapankan semua warga.
Tawaran menarik lainnya; para pemain (koor) menganti kostumnya dan properti di atas panggung bahkan ia menjadi komposisi gerak yang rampak dan rapi, didukung satu penari yang gemulai (Putri). Pijakan kesenian longser menjadi kuat. “Bodor” yang keluar dari para pemain (Jajang, Hafidz, Dio, Ajeng dan Ahmad Afandi) mengacu pada timing (ketepatan mengeluarkan dialog atau aksi panggung) yang baik, sehingga bodoran terasa lebih mendidik dan asyik, namun sesekali muncul bodoran klasik seperti mundur berlainan arah kemudian beradu, menjadi kelucuan yang tetap mengeluarkan gelak-tawa para penonton.
Di akhir cerita ketika tokoh Euis digotong (mati), semua pemain bernyanyi, kemudia seorang tokoh (Wiki) tampil beserta dialog pamungkas yang menjadi resolusi, bentuknya mirip ajakan pengkhotbah dan berusaha merangkum seluruh kejadian.
Peristiwa sampah, limbah, sulit air bersih dan pembangunan semena-mena, harus menjadi perhatian semua kalangan, bila perlu isu lingkungan harus terus didengungkan dengan cara yang menohok ke jantung persoalan Bandung yang setia dilanda banjir dan penanganan sampah.
"Air adalah sumber kehidupan | Tiada air tiada kehidupan | Semua makhluk pasti butuh air | Demi kelangsungan kehidupan"
Kelompok Bandoengmoii asuhan Hermana HMT kerap menyelenggarakan pertunjukan yang bertema lingkungan, kritik sosial bahkan mereka rutin menyelenggarakan Upacara Adat Hajat Cai pada bulan Juli/Agustus. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/teater-berjudul-munding-dongkol-1_20170928_100452.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/teater-berjudul-munding-dongkol-2_20170928_101246.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/teater-berjudul-munding-dongkol-3_20170928_100953.jpg)