HUT Kota Bandung
Metafor Munding Dongkol di Seni Bandung
Pertunjukan berdurasi 45 menit, menyita pandangan penonton untuk terus menyimak kejadian-kejadian yang tersaji di panggung.
Oleh: Peri Sandi Huizche, Apresiator Teater Seni Bandung #1
TRIBUNJABAR.CO.ID - Senin malam (25/9/2017), Kelompok Bandoengmooi menyajikan pentas perdana dari total 24 pertunjukan teater di Seni Bandung #1.
"Ini tanggal baik untuk kado ulang tahun Bandung yang ke 207" pungkas Hermana HMT selaku Sutradara ketika menyemangati para pemainnya.
Meski ruang budaya Celah Celah Langit (CCL) Ledeng-Bandung, sempat diguyur hujan, para penonton berdatangan, satu per satu tempat duduk terisi, lama-lama mereka berdesakan bahkan ada juga yang berdiri tak kebagian.
Rupanya hujan tak menyurutkan semangat untuk tetap menyaksikan peristiwa yang akan dipanggungkan kemudian.
Munding Dongkol dan Isu Sosial
Cerita terurai ketika warga desa mulai keluh-kesah akibat sebagain warga telah menjual lahannya kepada investor untuk dijadikan pabrik dan hotel. Konon pembuangan limbah pabrik menjadi faktor utama terjadinya wabah-penyakit dan sulitnya air bersih, sedangkan sumur artesis yang dibuat oleh hotel dan perumahan elit menjadi penyebab keringnya sumber air disetiap rumah warga.
Kejadian diperkeruh oleh para mafia tanah dalam memanipulasi surat-surat kepemilikan. Peristiwa itu kemudian melahirkan ketidak berdayaan sebagian warga dalam upaya mempertahankan tanahnya, ternaknya, bahkan kebudayanya.
“Untuk apa punya kerbau, bila rumput dan ladang habis-ludes diganti pohonan beton. Memelihara Kerbau dalam keadaan seperti ini hanya menyengsarakan hewan peliharaan, lebih manfaat dijual, sukur-sukur dagingnya bisa termakan,” begitulah kira-kira dialog yang terlontar dari tokoh yang bernama Mang Hermana.
Peristiwa lain muncul, seorang gadis bernama Euis disiarkan hilang setelah melamar kerja ke Pabrik yang limbahnya dibuang ke sungai, sebagian warga menuding bahwa Euis ditumbalkan kepada siluman Munding Dongkol.
Warga dan pemerintah desa bersuara, menggugat kenyataan pahit, membentur dinding jumawa penguasa yang suka berkelit dengan segala cara. Demi harta manusia akan melakukan segalanya, mereka tidak sungkan merusak bahkan membunuh. Hilang kesadarannya, hilang pula kemanusiaannya.
Mungding Dongkol dan Tawaran Pemanggungan
Pertunjukan berdurasi 45 menit, menyita pandangan penonton untuk terus menyimak kejadian-kejadian yang tersaji di panggung. Sutradara yang akrab dipanggil Mang Hermana, menjalin pengadegan dengan bentuk visual yang artistik.
Beliau menghadirkan properti Munding, Barongan, dan kostum-makeup yang sangat menohok (properti serupa karnaval) dalam memunculkan karakter tokoh. Multymedia-lampu dihadirkan sebagai pemisah ruang sekaligus ornamen penguat adegan. Musik, nyanyian dan komposisi gerak yang tersaji adalah upaya dinamisasi struktur pertunjukan.
Sepengakuan sutradara, cerita Munding Dongkol terinspirasi dari mitos yang konon dulu sempat terdengar di seantero Jagat Bandung, sebagai simbol kesuburan, kesejahteraan dan penjaga sungai.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/teater-berjudul-munding-dongkol-1_20170928_100452.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/teater-berjudul-munding-dongkol-2_20170928_101246.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/teater-berjudul-munding-dongkol-3_20170928_100953.jpg)