Senin, 20 April 2026

Ritual Merlawu - Di Kabuyutan, Ribuan Warga Berdoa dan Mengingat Jasa Leluhur

ADA banyak tradisi yang dilakukan masyarakat setiap masuk bulan Maulud. Satu di antaranya tradisi merlawu di Situs Kabuyutan Gandoang . . .

Penulis: Andri M Dani | Editor: Dedy Herdiana
TRIBUN JABAR/ANDRI M DANI
RITUAL MERLAWU - Warga berkumpul di Situs Kabuyutan Gandoang, Desa Wanasigra, Ciamis, untuk mengikuti ritual merlawu, Jumat (16/12/2016). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Andri M Dani

CIAMIS, TRIBUNJABAR.CO.ID - ADA banyak tradisi yang dilakukan masyarakat setiap masuk bulan Maulud. Satu di antaranya tradisi merlawu di Situs Kabuyutan Gandoang, Desa Wanasigra, Kecamatan Sindangkasih, Kabupaten Ciamis.

TAHUN ini, puncak acara merlawu digelar Jumat (16/12). Namun, rangkaian tradisi ini sudah dimulai sehari sebelumnya. Dimulai dengan ritual siraman, yakni pencucian berbagai benda pusaka peninggalan Galuh Wanasigra seperti keris, dilanjutkan dengan dibukanya naskah kuno Gandoang yang tertulis di atas kertas daluang dan prasasti tembaga, serta bersantap bersama dengan aneka suguhan makanan khas seperti kerupuk menak, gulampo, ikan balar, dan sebagainya.

Tradisi ritual merlawu 2

Puncak acara keesokan harinya dilakukan Kabuyutan Gandoang yang berada di tepi Sungai Citanduy, Blok Gandoang, Dusun Cipeucang, Desa Wanasigra. Selepas subuh menjelang terbit matahari, warga sudah berdatangan. Jarak antara Kabuyutan Gandoang dan permukiman warga sekitar satu kilometer.

Di Kabuyutan Gandoang inilah Eyang Syeh Padamatang, pemuka agama Islam dan leluhur Wanasigra, dimakamkan. Di sisi jalan setapak menjelang makam Eyang Padamatang terdapat sebuah prasasti dari batu besar yang tulisan kunonya belum dipahami artinya. Ada tanda berupa tapak kaki dan tangan manusia dan bekas cakar hewan.

Tradisi ritual merlawu 3

Puncak ritual merlawu di kabuyutan diawali dengan mengganti pagar bambu yang mengelilingi makam Eyang Padamatang, dilanjutkan dengan tawasulan dan doa bersama.

H Oyon Wahyan, Ketua MUI Desa Wanasigra, didaulat memimpin doa bersama pada puncak ritual ini. Doa bersama diikuti ribuan warga. Barisan laki-laki berada terpisah dengan barisan perempuan. Semuanya tanpa lalas kaki.

"Warga yang datang tidak hanya dari Desa Wanasigra, tapi banyak juga dari luar. Tiga tahun terakhir, tradisi merlawu ini makin ramai saja," ujar Holil (48), warga Dusun Cimamut, Desa Wanasigra, yang rutin mengikuti tradisi ini setiap tahunnya di lokasi Kabuyutan Gandoang, Jumat (16/12) siang.

Tradisi ritual merlawu 4

Bapak empat anak ini mengatakan tradisi Merlawu merupakan tradisi mauludan sekaligus ungkapan teritama kasih dan rasa syukur atas jasa-jasa leluhur kampung Wanasigra. Ia mengatakan, Eyang Padamatang menyulap kawasan hutan yang luas di Wanasigra ini menjadi perkampungan yang makmur, menjadi kebun dan sawah. Eyang Padamatang pulalah yang membendung sungai agar airnya bisa mengairi sawah meski untuk itu harus bertengkar dengan Adipati Imbanagara yang tengah berkuasa.

"Hasil kerja keras Eyang Padamatang ratusan tahun lalu itu telah melahirkan Wanasigra ini menjadi kampung yang subur. Pertaniannya menghasilkan dan menyejahterakan masyarakat. Kami tak melupakan jasa beliau, lelulur Wanasigra," katanya.

Pegiat sejarah Pandu Radea dari komunitas Tapak Karuhun mengatakan, masih banyak peninggalan sejarah dan tradisi di Desa Wanasigra yang perlu digali. Meski letaknya jauh di pelosok, menurut Pandu, di desa ini terdapat rumah-rumah peninggalan tempo dulu yang diduga merupakan rumah pengusaha- pengusaha sukses masa itu. Rumah-rumah kuno tersebut ada yang masih terpelihara dengan baik dan ada juga yang terancam ambruk.

Namun tidak ada naskah yang menjelaskan secara terperinci tentang posisi Wanasigra, terutama dalam kaitannya dengan sejarah Kerajaan Galuh.

Tak hanya itu, ada juga jembatan kuno yang menarik perhatian. Jembatan tembok yang lebarnya hanya 1,5 meter di Dusun Cimamut, Wanasigra, diperkirakan sudah berusia ratusan tahun. Pandu menduga, jembatan kuno dulunya tempat kereta kencana melintas. Jembatan itu kini berada di kebun dan sisi kolam warga di jalan buntu yang sudah tidak berfungsi.

Sekda Ciamis, Drs A H Herdiat S MM, mengatakan ritual merlawu ini perlu diangkat dan ditingkatkan jadi agenda wisata budaya tradisi tahunan tingkat Kabupaten Ciamis.

"Tapi terlebih dahulu perlu ada penataan dan peningkatan, terutama lokasi jalan menuju situs yang perlu diperbaiki. Kalau perlu, diaspal sehingga memudahkan akses masuk pengunjung," ujar Sekda di sela acara merlawu.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved