Bandung Teknopolis
Demi Percepatan Pembangunan Kawasan Teknopolis, Truk Urugan Tanah Beroperasi 14 Jam Sehari
iakui Didi, akses menuju kawasan pembangunan teknopolis itu kerap terjadi kemacetan. Sebab hanya ada satu . . .
Penulis: cis | Editor: Dedy Herdiana
Laporan Wartawan Tribun Jabar Teuku Muh Guci S
BANDUNG, TRIBUNJABAR.CO.ID - Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung akan memberlakukan jam operasional baru bagi truk urugan pembangunan kawasan teknopolis Summarecon. Truk urugan itu beroperasi selama 14 jam dalam sehari dengan pembagian waktu dua shift.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Tribun, truk beroperasi mulai pukul 09.00 WIB sampai 16.00 WIB untuk shift pertama. Sedangkan shift kedua, truk kembali beroperasi mulai pukul 21.00 WIB sampai 03.00 WIB.
"Aspek umumnya ini dalam rangka menyelesaikan kemacetan. Karena banyaknya truk ini, dampak kemacetan tinggi," kata Kepala Dishub Kota Bandung, Didi Ruswandi kepada Tribun usai rapat koordinasi penyelesaian kemacetan di aula Kecamatan Gedebage, Selasa (27/9/2016).
Selain itu, kata Didi, pembagian jam operasi itu juga diharapkan bisa mempercepat pembangunan kawasan Bandung teknopolis. Sebab sebelumnya truk urugan itu hanya beroperasi mulai pukul 09.00 WIB sampai pukul 16.00 WIB.
"Jadi kemacetan terurai, pembangunan tidak berhenti," ujar Didi.
Diakui Didi, akses menuju kawasan pembangunan teknopolis itu kerap terjadi kemacetan. Sebab hanya ada satu akses yang bisa dilalui kendaraan menuju kawasan tersebut, yakni Jalan Raya Gedebage. Jalan itu pun satu-satunya akses yang dilalui warga Kecamatan Gedebage menuju Jalan Soekarno-Hatta dan Jalan Derwati.
"Truk-truk ini kan biasanya sudah beroperasi dari pagi. Makanya nanti dicoba jam baru. Jadi selama jam sibuk pagi dan jam sibuk sore truk tidak boleh beroperasi. Truk boleh beroperasi sesuai yang diatur," kata Didi.
Didi mengatakan, pengaturan jam operasi itu satu-satunya solusi untuk mengurangi kemacetan dan mempercepat pembangunan kawasan teknopolis saat ini. Solusi lain, kata diia, truk urugan tanah itu bisa melalui gerbang tol di kilometer 149.
"Tapi itu kan belum beres, jadi kalau mau menggunakan tol, harus mengajukan izin dulu hingga ke pemerintah pusat. Makanya kalau mau menggunakan tol, nanti kalau memang sudah beres," kata Didi.
Didi mengkalim, warga sepenuhnya mendukung asalkan ada sosialisasi terkait dampak dan pengganti kenyamanan akibat pemberlakuan jam operasinal selama 14 jam itu. Namun ia belum bisa memastikan kapan pemberlakuan jam operasional itu dilakukan lanttara warga masih perlu berdiskusi.
"Hanya tinggal masalah sosialnya saja. Kompensasi dari terganggunya waktu malam," kata Didi. (cis)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/tronton-menurunkan-tanah_20160410_195504.jpg)