Satu Lagi Karya Anak Bangsa
Alat Bantu Medis dari Botol Plastik Bekas
SIAPA sangka, botol plastik bekas bermanfaat untuk kesehatan. Sampah ini ternyata dapat diolah menjadi alat bantu medis
Laporan Isa Rian Fadilah
SIAPA sangka, botol plastik bekas ternyata memiliki manfaat untuk kesehatan. Sampah ini dapat diolah menjadi alat bantu medis yang bermanfaat bagi penderita pembengkokan tulang belakang atau skoliosis.
OLEH penemunya, Lies Banowati, mahasiswa S3 Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB, alat bantu ini diberi nama Boston Brace Scoliosis.
Alat ini terbuat dari komposit benang rami dan plastik high density polyethylene (HDPE).
Dari botol-botol plastik bekas itulah, menurut Lies, plastik HDPE ia buat.
Karena terbuat dari plastik bekas, Lies mengaku, alat ciptaanya ini jauh lebih murah dari alat sejenis yang dibuat pabrik.
"Kalau alat yang tersedia di rumah sakit itu biasanya harganya bisa mencapai Rp 6 juta. Kami menyediakan alat ini sebagai alternatif yang lebih murah, hanya Rp 1 sampai Rp 2 juta," kata Lies di kampus ITB, Senin (21/3).
Selain lebih murah, kata Lies, alat ciptaanya juga lebih ramah lingkungan. Selain plastiknya yang dibuat dari hasil daur ulang barang-barang bekas, kompositnya juga terbuat dari serat alami.
"Alat ini juga sudah diuji. Untuk arah nol derajat, kekuatannya 87 Mpa. Yang saya buat istilahnya chop atau serat acak. Saya sengaja menggunakan serat acak untuk mempermudah membuat lengkungan-lengkungan pada alat ini. Paling cocok menggunakan chop," kata Lies.
Dibandng alat sejenis, menurut Lies, desain alat ciptaannya juga lebih tipis sehingga bobotnya bisa lebih ringan. Bobot alat yang ringan ini sangat penting, mengingat pasien akan menggunakannya selama 24 jam sehari.
"Cara menggunakannya, pasien pakai kaos dulu, lalu dipasanglah brace tersebut. Setelah itu baru ia pakai baju lagi, jadi tidak terlihat dari luar," jelas Lies.
Penelitian ini, ujarnya, ia lakukan slama tiga tahun di bawah bimbingan dosen-dosennya di FTMD ITB yakni Dr Bambang Kismono Hadi dan Prof Rochim Suratman.
"Pertama kami harus meneliti seratnya dulu. Kemudian, spesimennya diuji masing-masing," ujar Lies.
Selain sudah diuji, alat ini, menurut Lies, juga sudah digunakan oleh pasien penderita pembengkokan tulang belakang yang masih berusia lima tahun yang berasal dari keluarga tak mampu.
"Saya buatkan alat ini untuk anak tersebut. Setelah dipakai selama dua tahun, hasil rontgen menunjukkan kelengkungan tulangnya berkurang," ujar Lies.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/boston-brace-scoliosis-dari-botol-plastik-bekas_20160322_102346.jpg)