Success Story
Inovasi Sagala Lada ala Winda Budi Astuti
BAGAIMANA sensasinya jika Anda mengunyah makanan rasa cokelat tapi ada rasa pedas terasa di lidah?
Penulis: Taufik Ismail | Editor: Hermawan Aksan
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Taufik Ismail
BAGAIMANA sensasinya jika Anda mengunyah makanan rasa cokelat tapi ada rasa pedas terasa di lidah? Itulah yang akan dirasakan ketika mencicipi makaroni cokelat pedas buatan Winda Budi Astuti.
Sejak awal 2015, Winda dan suaminya, Budianto, memproduksi camilan makaroni dan seblak kering dengan brand Sagala Lada. Mereka terus berinovasi menciptakan makaroni berbagai varian rasa. Yang paling ekstrem, makaroni cokelat pedas.
(lihat: VIDEO: Kisah Pria Tua Pengayuh Becak yang Setiap Hari Jumat Menggratiskan Penumpangnya)
Winda mengatakan, mereka awalnya bekerja. Setelah menikah di tahun 2009, suaminya memutuskan pindah ke Cimahi.
"Kami mulai berjualan tahun 2010. Waktu itu jualan keripik singkong. Tapi kami jadi reseller. Kami mengambil keripik yang sudah dibungkus dan siap jual," katanya kepada Tribun, Selasa (16/2). Saat itu, Winda dan Budianto mengambil keripik dari kawasan Cidahu.
Berjalan lima bulan, mereka berjualan seblak kering. Barang tersebut didapat dari daerah Cibabat, Kota Cimahi.
Januari 2015, Winda mengambil langkah berani. Ia dan Budianto memutuskan untuk membuka usaha sendiri. Mereka memproduksi makaroni dan seblak kering.
Ada berbagai pertimbangan mengapa Winda memilih memproduksi sendiri. "Misalnya kalau mengambil ke orang lain, ketika ada keluhan, kami tak bisa merespons. Karena itu kan produk orang," ucapnya.
Kritik dan saran mengenai produk yang dijualnya tak bisa diperbaiki. Ini berbeda dengan ketika Winda memproduksi sendiri.
"Yang kedua, ketika produk kurang inovasi, kami tak bisa apa-apa. Kami tak bisa meminta produsen membuat produk yang kami inginkan," ujar Winda.
Di awal memproduksi camilan, Winda membuat beberapa macam camilan. Ini menjadi semacam tes pasar. Seiring dengan berjalannya waktu, makaroni dan seblak kering yang paling diterima masyarakat.
Varian rasa yang kini tersedia di Sagala Lada adalah cabai hijau, cabai merah, rendang, jagung bakar, dan cokelat pedas.
"Awalnya hanya rasa seblak. Setelah itu, saya enggak mau stuck. Harus ada inovasi," kata Winda.
Untuk bumbu, Winda melakukan inovasi sendiri. Misalnya saja untuk rasa rendang. Bumbu-bumbu instan yang ada di pasaran tak cocok. Karenanya Winda membuat bumbu sendiri menggunakan 16 rempah Indonesia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/winda-budi-astuti_20160221_100243.jpg)