Persib Vs Persija
Polda Bantah Ada Pendukung Persija Meninggal
Kericuhan yang terjadi antara pendukung Persija Jakarta yang akan menuju Bandung dengan pendukung Persib Bandung di tol Cipularang KM 66
Penulis: Firman Wijaksana | Editor: Darajat Arianto
SOREANG, TRIBUN - Kericuhan yang terjadi antara pendukung Persija Jakarta yang akan menuju Bandung dengan pendukung Persib Bandung di tol Cipularang KM 66 berhasil diantisipasi kepolisian. Kericuhan tersebut sempat menutup akses tol Cipularang.
Kapolda Jabar, Irjen Pol Mochamad Iriawan mengatakan, aksi massa dari The Jakmania bisa dikendalikan setelah Polda Jabar dibantu Polda Metro Jaya turun melakukan pengamanan. Kepolisian berhasil membubarkan kedua kubu yang berselisih.
"PSSI tidak mengizinkan The Jakmania untuk datang ke Si Jalak Harupat. Namun pendukung Persija tetap datang dan saat di tol terjadi kericuhan. Tapi kami dibantu Polda Metro bisa mengamankannya," ujar Iriawan di Stadion Si Jalak Harupat, Kamis (8/5).
Polda Metro Jaya kemudian memulangkan The Jakmania ke Jakarta. Hal itu dilakukan agar keamanan bisa dikendalikan. Terkait kerusakan bis yang terjadi di KM 66, lanjut Iriawan, bukan merupakan kesalahan dari bobotoh.
"Pendukung Persija merasa kesal setelah bentrok dengan bobotoh. Bis yang digunakan juga bis plat B. Jadi tidak dirusak bobotoh," katanya.
Terkait isu di media sosial yang menyatakan ada satu orang The Jakmania yang meninggal setelah terlibat kericuhan, Iriawan membantahnya. Polda Jabar telah mengklarifikasinya dan menjelaskan bahwa isu tersebut tidak benar.
Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Pol Martinus Sitompul menjelaskan jika isu satu orang pendukung Persija meninggal tidak benar. Martinus telah melakukan klarifikasi hal tersebut ke Polres Karawang.
"Sudah saya hubungi Polres Karawang. Tidak benar isu itu. Yang luka juga tidak ada. Tapi benar kalau ada satu kendaraan bis yang rusak. Tapi bisa plat B itu juga dirusak pendukung Persija sendiri," kata Martinus.
Martinus mengharapkan pendukung kedua kesebelasan bisa lebih dewasa. Islah yang telah dilakukan bisa ditaati agar kedua pendukung tim sepak bola itu tidak terpancing isu menyesatkan. (*)