Jumat, 22 Mei 2026

Heri Tetap Mau Nikahi Yanti, Korban Longsor yang Diamputasi

Tak berselang lama, dua sejoli yang sudah berpacaran selama tiga tahun itu pun berangkat menggunakan sepeda motor. Namun bukannya merasa tenang

Tayang:
Penulis: M Zezen Zainal Muttaqin | Editor: Darajat Arianto

Oleh M Zezen Zainal M

NALURI dan perasaan seorang ibu terhadap anaknya memang sangat tajam dan tak pernah salah. Hal itu pula yang dialami oleh Nur Addakhiyah (54), warga RT 02/01 Kampung Sinarmukti, Desa Selacau, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), saat naluri keibuannya merasakan sesuatu yang agak berbeda dari biasanya.

Minggu (23/3) siang itu, Nur merasakan hatinya sedikit gundah dan tidak tenang setelah anak ketiganya, Harmijayanti (22) meminta izin untuk berekreasi. Usai mencium tangan sang ibu, Harmijayanti yang akrab disapa Yanti itu pun pamit karena sang kekasih hati, Heri Iswanto (23) telah menjemput di depan rumah.

Tak berselang lama, dua sejoli yang sudah berpacaran selama tiga tahun itu pun berangkat menggunakan sepeda motor. Namun bukannya merasa tenang karena anaknya didampingi Heri yang telah dikenal keluarga besarnya, perasaan gundah dan tidak tenang yang dirasakan sang ibu malah semakin menjadi. Di tengah kegundahannya itu Nur hanya mendoakan agar Yanti dan Heri diberikan keselamatan hingga kembali pulang ke rumah.

"Perasaan saya enggak enak. Kayak ada yang ngeganjel. Saya mau mengingatkan (untuk hati-hati), tapi mereka sudah berangkat," kata sang ibu saat ditemui Tribun, Senin (24/3).

Hal yang ditakutkan sang ibu pun terjadi. Kabar yang diterimanya sekitar pukul 14.00 sore itu, seketika membuat badannya lemas. Wanita berkerudung itu pun nyaris tidak bisa berdiri ketika mengetahui anak gadisnya mengalami kecelakaan yakni tertimpa batu besar dari longsoran tebing yang terjadi di objek wisata Curug Cimahi, Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua. Terlebih kabar pahit yang diterimanya itu disampaikan langsung oleh Heri, kekasih anaknya.

"Waktu (Yanti) mau berangkat deg-degan terus. Ternyata saya ditelepon, dia kecelakaan tertimpa longsor," ujar Nur lirih dengan mata yang berkaca-kaca.

Awalnya sang ibu sama sekali tidak menyangka bila kecelakaan yang menimpa anaknya terbilang parah. Ketika itu Nur hanya diminta segera datang ke Klinik Advent di lingkungan Universitas Advent Indonesia Kecamatan Cisarua. Begitu tiba di klinik, ternyata anaknya sudah tidak ada karena sudah dirujuk ke Rumah Sakit Advent Bandung. Nur bersama suaminya, Suradi (56) dan keluarga besarnya kemudian menyusul ke rumah sakit.

Begitu tiba di rumah sakit, Nur justru dihadapkan pada kenyataan yang lebih pahit. Pasalnya, tim dokter meminta izin Nur dan suaminya untuk melakukan tindakan medis dengan melakukan amputasi pada kaki kanan Yanti untuk menyelamatkan nyawanya yang sedang kritis akibat banyak kehilangan darah.

"Tulang pahanya hancur. Dokter bilang sudah mengusahakan pertolongan agar tidak sampai diamputasi, namun terus keluar darah. Banyak sekali darah yang keluar dan akhirnya diamputasi," ujar sang ibu sambil tertunduk menahan air mata.

Meski sangat berat, Nur dan suaminya tetap mengizinkan tim dokter untuk melakukan amputasi demi menyelamatkan nyawa anak gadisnya tersebut. Proses amputasi tersebut dilakukan pada Minggu malam lalu. Pihak keluarga kemudian menguburkan potongan kaki kanan Yanti di kampung halamannya di Kampung  Sinarmukti, Batujajar pada Senin (24/3) pagi.

Meski Yanti sudah melewati masa kritis setelah diamputasi, Nur tetap terlihat begitu cemas. Tatapan matanya tampak kosong dan sesekali menerawang namun dengan mata yang berkaca-kaca. Tersirat rasa lelah di kelopak matanya yang sudah mulai kendur dan berkeriput. "Saya enggak bisa tidur, mikirin masa depan dia (Yanti). Apalagi dia anak perempuan," kata Nur dengan suara pelan sambil terisak.

Di samping Nur, tampak Heri, kekasih anaknya yang selalu berdiri di sampingnya. Seperti halnya Nur, wajah Heri juga tampak kusut. Pria bertubuh tinggi besar itu kemungkinan juga kurang tidur seperti Nur karena menunggu proses amputasi yang dilakukan tim dokter terhadap Yanti yang tertimpa batu berdiameter sekitar 40 sentimeter.

Mata Heri juga terlihat lelah dan bengkak seperti bekas menangis. Namun kondisi itu dapat dimaklumi karena saat kejadian, Yanti memang tengah bersama dirinya, sehingga Heri tampak merasa bersalah. Ketika longsor terjadi, kedua sejoli yang tengah dimabuk asmara itu tengah asyik foto-foto di pinggir tebing Curug Cimahi yang berada di bawah naungan Perum Perhutani Bandung Utara.

Jarak antara Heri dan Yanti saat itu sekitar 3 meter. Ketika itu, Heri bermaksud untuk mengambil foto kekasihnya dari atas tangga sehingga ia mengambil jarak sekitar 3 meter di depan Yanti. Ketika longsor terjadi, ia hanya sempat berteriak dan menyuruh Yanti lari menghindari longsor.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Tags
Bencana
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved