Cendekiawan Indonesia Kehilangan Orientasi
SULIT untuk mengecilkan, apalagi menghapus, peran kaum cendekiawan dalam proses terbentuknya sebuah nasion bernama Indonesia. Perlawanan terhadap
Padahal di wilayah dunia yang lain kaum cendekiawan tak hentihentinya memberikan sumbangan pikiran, dikemukakan dalam berbagai kesempatan sehingga sedikit banyak ikut mewarnai perkembangan peradaban memasuki abad XXI ini. Setelah generasi Samuel Huntington dan Francis Fukuyama, muncul pemikiran Fritjof Capra, Farag Khanna, Fareed Zakaria, serta Robert Kagan yang masing-masing seolah berlomba mengemukakan tesisnya yang menarik. Khanna dan Zakaria berargumen tentang memudarnya pengaruh AS serta timbulnya superpower baru, sementara Mickletwait meramalkan diakuinya kembali peran Tuhan yang selama ini sudah sangat sering diabaikan.
Studi Foulcher tentang Konfrontasi juga berhasil mengungkap latar belakang para pengelola serta aspirasinya. Berangkat dari variasi isi serta jaringan internasionalnya, Foulcher sampai pada kesimpulan, meski samar-samar, pengelola majalah tersebut yang sebagian besar, atau mungkin semuanya, terkait politik dengan Syahrir (PSI) juga berkelindan dengan jaringan CIA yang perannya sangat luas di tengah konstelasi Perang Dingin saat itu. Dihubungkan dengan isu aktual bahwa Goenawan Mohamad juga disinyalir termasuk yang dijamah CIA, meski juga samar, barangkali ada persoalan besar yang dihadapi kaum cendekiawan Indonesia sejak dulu hingga saat ini. ***
* dari harin pagi Tribun Jabar, edisi Selasa (4/2/2014)