Warga Simpan Tabung Kosong dan Bayar Jaminan ke Agen
Mereka sampai mengantre di sejumlah agen penyalur gas elpiji beberapa hari sebelum mendapat gas. Sedangkan, gas elpiji tabung 12 kilogram
Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam | Editor: Darajat Arianto
GARUT, TRIBUN - Warga Kabupaten Garut kesulitan mendapat gas elpiji tabung 3 kilogram. Mereka sampai mengantre di sejumlah agen penyalur gas elpiji beberapa hari sebelum mendapat gas. Sedangkan, gas elpiji tabung 12 kilogram cenderung tidak diminati warga.
Asepudin (42), warga Desa Cibodas, Kecamatan Cikajang, mengatakan sudah tiga hari stok persediaan gas elpiji tabung 3 kilogram di tokonya habis. Warga pun, katanya, mengeluh kesulitan mendapat gas elpiji.
"Biasanya Senin pasokan datang, tetapi nyatanya tidak kunjung datang. Makanya, saya menyimpan 10 tabung kosong di agen dan membayar duluan untuk jaminan, kalau barang ada, saya langsung dapat," kata Asepudin saat ditemui di salah satu agen gas elpiji di Jalan Raya Samarang-Bayongbong, Senin (6/1).
Menurutnya, kelangkaan ini menyebabkan warga kesulitan mendapat gas elpiji untuk keperluan memasak. Asep pun hanya boleh membeli maksimal 10 tabung karena diberlakukannya pembatasan pembelian.
Warga Desa Cisurupan, Kecamatan Cisurupan, Wahyu (50), mengatakan kelangkaan ini terjadi sejak 1 Januari 2014. Di pelosok, katanya, satu tabung gas elpiji 3 kilogram bisa dijual sampai Rp 28 ribu.
"Banyak yang tadinya menggunakan gas 12 kilogram menjadi memakai yang 3 kilogram. Ini akibat kenaikan harga yang 12 kilogram. Tapi kemudian berimbas pada kelangkaan tabung gas 3 kilogram," katanya.
Agen tabung gas di Desa Mulyasari, Kecamatan Bayongbong, Muhammad Kiki (27), mengatakan kelangkaan gas elpiji tabung 3 kilogram terjadi sejak awal 2013. Hal ini disebabkan berkurangnya pasokan.
"Tahun 2013, saya biasa mendapat dua truk tabung gas elpiji 3 kilogram sehari. Sekarang berseling, sehari satu truk, besoknya dua truk, besoknya lagi satu truk. Satu truk membawa 560 tabung," katanya.
Kiki mengatakan pada awal tahun ini, pasokan gas tidak didapatnya pada hari libur dan minggu. Karenanya, permintaan konsumen tidak dapat semuanya terpenuhi langsung.
Konsumen, katanya, harus menyimpan tabung kosongnya di agen untuk mengantre. Baru keesokan harinya, biasanya mereka mendapat tabung gas pesanannya. Pembeliannya pun, dibatasi maksimal 10 tabung.
"Andaikan pasokan yang masuk sampai 4 truk per hari, kami baru bisa memenuhi semua pesanan hari itu juga. Tidak usah berebut atau mengantre sehari semalam," katanya.
Kiki mengatakan semakin jauh jarak warung pembeli dengan lokasi agennya, akan semakin mahal harga jualnya. Kalau di daerah perkotaan, harganya masih Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu per tabung. Tapi, kalau sudah di kaki gunung, katanya, harganya bisa sampai Rp 40 ribu per tabung.
"Sejak harganya naik jadi Rp 127 ribu, kami belum memesan tabung gas 12 kilogram. Belum stabil, takutnya rugi. Beberapa penggunanya pun sedah beralih ke tabung 3 kilogram karena kemahalan harganya," katanya.
Kenaikan harga gas elpiji tabung 12 kilogram dari Rp 79 ribu menjadi Rp 127 ribu per tabung menyebabkan penumpukan pasokan di sejumlah agen gas di Kabupaten Garut.
Pengelola PT Multi Gasido TCP, Sobur, mengatakan biasanya 270 tabung gas elpiji 12 kilogram yang dipesannya habis terjual kepada para pedagang dan konsumen dalam waktu 3 jam.