Mengajarkan Bahasa Sunda di Perbatasan Sangat Sulit
PERJUANGAN guru bahasa Sunda memiliki tantangan sendiri dibanding guru mata pelajaran lainnya. Hal itu terjai karena saat ini penggunaan
Penulis: Siti Fatimah | Editor: Darajat Arianto
Oleh Siti Fatimah
PERJUANGAN guru bahasa Sunda memiliki tantangan sendiri dibanding guru mata pelajaran lainnya. Hal itu terjai karena saat ini penggunaan bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari makin berkurang. Mulai anak-anak hingga remaja lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia dibanding bahasa Sunda.
Untuk kembali mengingatkan generasi muda menggunakan bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari bukanlah pekerjaan mudah, terlebih bagi guru yang tinggal di perbatasan dengan provinsi lain.
Perjuangan para guru inilah yang menjadi penilaian dewan juri Hadiah Hardjapamekas 2013 saat memilih tiga guru dari beberapa daerah di Jawa Barat. Sanu Mulyadi, guru bahasa Sunda SD di Desa Sumber, Cirebon; Wiwin Widaniawati, guru bahasa Sunda SMA Kota Tasikmalaya; dan Wahyu Hidayat, guru bahasa Sunda SMP di Desa Cinere, Depok, menerima langsung Hadiah Hardjapamekas 2013 di Hotel Isola Resort Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Jalan Setiabudhi, Sabtu (28/9).
Sanu adalah seorang guru bahasa Sunda yang mengajar di sekolah perbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah. Di Desa Munjul banyak orang Sunda, tetapi di sekolah juga banyak warga Desa Martapada yang sebagian besar orang Jawa.
"Siswa berbicara bahasa Jawa. Di rumah atau dengan teman lainnya mereka berbahasa Jawa," kata Sanu, yang sudah mengajar sejak 1982.
Baginya, mengajar murid yang menggunakan bahasa lain tapi di sekolah harus belajar bahasa Sunda merupakan tantangan. Untuk semakin meningkatkan muridnya mengenal dan mencintai budaya Sunda, di sekolahnya juga diajarkan kesenian degung, kecapian, dan kegiatan upacara Sunda.
Wiwin, penerima penghargaan lainnya, juga memiliki tantangan sendiri. Diakuinya anak-anak saat ini sudah jarang menggunakan bahasa Sunda. Karena itu, selain memberikan pelajaran bahasa Sunda, ia membuat majalah dinding berbahasa Sunda. Perjuangan lainnya, ia bersama rekan-rekannya mengirim surat kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI saat mengetahui bahwa bahasa Sunda tidak akan lagi menjadi muatan lokal. Ia juga pernah mendatangkan Komisi X DPR RI untuk melihat langsung ke sekolahnya, bahwa bahasa Sunda itu penting agar budaya Sunda, yang termasuk budaya nasional, tetap terjaga kelestariannya.
"Seharusnya anak-anak saat masih kecil sudah diajak menggunakan bahasa Sunda. Jangan takut salah. Mungkin ini yang membuat orang tua enggan berkomunikasi dengan bahasa Sunda kepada anaknya," katanya.
Wahyu, penerima penghargaan lainya, adalah guru yang sudah 23 tahun mengajar bahasa Sunda di wilayah perbatasan dengan lingkungan masyarakat Betawi. Ia menggunakan metode sendiri agar anak didiknya menyukai kebudayaannya sendiri.
"Bagaimana mengajar bahasa Sunda agar menyenangkan dan bisa diterima, seperti dengan puisi atau sajak Sunda," katanya.
Menurut salah seorang juri Hadiah Hardjapamekas, Elin Syamsuri, dari hasil seleksi diperoleh sepuluh guru bahasa Sunda calon penerima Hadiah Hardjapamekas tersebut. Mereka datang dari Tasikmalaya, Purwakarta, Bandung Barat, Kabupaten Bandung, Cirebon, Subang, dan Garut. Setelah diseleksi kembali, diperoleh tiga nama yang memenuhi kriteria penerima hadiah tersebut.
"Kami sudah menerima hasil nominasi. Di lapangan kami dibantu Musyawarah Guru Mata Pelajaran Bahasa Sunda yang ada di setiap kabupaten/kota. Di sini sudah ada nama-nama yang memang layak menerima sesuai kriteria," katanya.
Pemberian penghargaan Hadiah Hardjapamekas sudah melalui penjurian cukup lama. Selain melihat pengalaman mengajar dan perjuangannya terhadap kelestarian bahasa dan budaya Sunda, ada tiga kategori yang juga menjadi pertimbangan juri untuk menentukan pemenangnya. "Tiga kategori itu adalah kompetensi pedagogisnya, kompetensi pribadi, dan kompetensi profesionalnya," katanya.
Kompetensi pedagogis, ujarnya, berkaitan dengan tugas guru sebagai pendidik, antara lain merancang, melaksanakan, dan mengembangkan pembelajaran bahasa Sunda. Kompetensi pribadi berkaitan dengan peran guru baik di sekolah maupun di masyarakat dalam menarik minat dan memberi motivasi menggunakan bahasa Sunda kepada berbagai elemen masyarakat. Dan kompetensi profesional berkaitan dengan profesi guru dalam mengajarkan bahasa Sunda.