Alat Pembunuh Kanker Made in Indonesia
Diminati Pengusaha Besar Mancanegara
setiap hari kerja, yakni Senin-Jumat, puluhan orang datang ingin menyembuhkan diri dari gerogotan penyakit kanker. Pasien berdatangan dari berbagai
Menurut sang penemu, alat yang diproduksi tersedia dalam berbagai ukuran, yang disesuaikan dengan ukuran tubuh Asia. Namun tetap saja, pengukuran harus dilakukan pada setiap orang, mengukur tubuh spesifik calon pengguna, untuk disesuaikan dengan alat. Jika tidak ada penyesuaian, pada hari itu juga ia bisa mengakses alat ciptaan Warsito tersebut. Setelahnya, sang penderita kanker akan diberi pengarahan mengenai berapa lama alat tersebut harus dikenakan.
Alat-alat seharga kira-kira Rp 4 juta itu akan dipinjamkan selama enam bulan. Menurut Warsito, angka tersebut sudah cukup murah, mengingat tarif pengobatan dengan kemoterapi ataupun radiasi satu paketnya bisa mencapai ratusan juga.
"Kalau ternyata tidak mampu, kami juga memberikan keringanan. Kami di sini tidak cari untung. Yang membawa surat keterangan tidak mampu (SKTM) pun kami terima, kami berikan diskon 70 persen, walaupun kami tidak kerja sama dengan pemerintah untuk hal itu," katanya.
Selama pemakaian alat itu, pasien dilarang untuk mengonsumsi makanan dengan kadar hormon tinggi, seperti kerang, udang, dan cumi-cumi. Pasien juga diminta untuk rutin memeriksakan kesehatannya ke rumah sakit, lalu melaporkannya ke pihak Edwar Technology untuk dipantau perkembangannya, dan melakukan penyesuaian alat bila perlu.
"Umumnya setelah enam bulan bisa terlihat hasilnya. Tapi banyak juga yang sebelum enam bulan sudah dinyatakan sembuh total," kata Warsito.
Rekor penyembuhan tercepat dialami seorang perempuan berumur sekitar 35 tahun, penyandang penyakit kanker payudara stadium tinggi. Setelah tiga minggu menggunakan alat ciptaannya, perempuan tersebut dinyatakan bebas dari kanker.
Selain di CTech Labs Edwar Technology, alat ciptaannya juga bisa diakses di Rumah Sakit Islam Banyu Bening, Solo, Jawa Tengah; Rumah Sakit Al-Irsyad Surabaya, Jawa Timur; dan di sebuah klinik di Semarang. Prosedur yang harus dilalui pasien pun menurutnya tidak berbeda dengan di kantor CTech Labs Edwar Techonogy. (tribunnews)