Eksklusif Tribun Jabar
Cerita Harian 5 Penjaga Jembatan Penyeberangan Berbayar di Bandung, Ada Juga yang Tak Bayar
Tiga jembatan yang dikelola Abdul Gofur selama setahun bisa menghasilan uang setengan miliar rupiah. Ada 5 orang penjaga, kisahnya lucu-lucu.
Penulis: Muhamad Nandri Prilatama | Editor: Kisdiantoro
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Bagaimana pengelolaan bisnis jembatan penyeberangan di aliran Sungai Citarum di Bandung Barat?
Tiga jembatan yang dikelola Abdul Gofur selama setahun bisa menghasilan uang setengan miliar rupiah.
Dalam pengelolaanya, ada lima orang yang dipercayai menjaga jembatan tersebut oleh pemilik ketiga jembatan kayu buatan ini.
Semuanya berasal dari Jawa Tengah, yakni Brebes dan Cilacap.
Munjirin (28), salah seorang penjaga asal Cilacap, mengungkapkan, sudah sekitar enam bulan ia bekerja sebagai penjaga pos jembatan yang setiap hari bertugas mengumpulkan uang hasil dari pemberian warga pengguna jembatan.
Menurut dia, para penjaga pos di ketiga jembatan ini berasal dari Jawa Tengah dan masih ada keterkaitan dengan keluarga pemilik jembatan. Sehari-hari, kata Munjirin, jam operasional jembatan ini 24 jam kecuali di Jembatan Jubang, hanya pukul 05.30-20.30 WIB.
Dari lima orang penjaga itu, kata Munjirin, biasa dilakukan bergiliran atau rolling setiap sebulan sekali dengan tujuan agar tidak jenuh.
• Terungkap, Bocoran Spesifikasi Realme 3, Smartphone untuk Anak Muda yang Segera Hadir di Indonesia
Adapun jumlah penjaga di Jembatan Surapatin sebanyak dua orang, Cangkorah dua orang, dan Jubang satu orang.
Tidak hanya bertugas mengumpulkan uang, mereka juga dituntut selalu mengecek kondisi jembatan.
"Warga yang ingin pergi ke ladang (kebun) itu tidak dipungut biaya karena lokasi Jembatan Jubang ini kan dekat dengan ladang," ujarnya di Jembatan Jubang, Rabu (27/2).
Munjirin juga mengaku mendapat upah per bulan Rp 60 ribu ditambah makan tiga kali sehari, yakni pagi, siang, dan sore. Jumlah besaran upah itu diakui Munjirin sudah cukup ketimbang bekerja bangunan yang memerlukan tenaga ekstra, sedangkan ini hanya duduk dan membuka portal.
• KPU Terima Surat Suara untuk Pemilihan Anggota DPRD Kota Bandung
"Kebetulan saya masih ada ikatan saudara sama pemilik ini. Saya juga kalau merasa jenuh biasa memutar musik saat jaga," ujarnya dengan menyebut paling enak berjaga di Jembatan Surapatin karena jika di Jembatan Jubang selepas Magrib sudah sepi.
Ketika disinggung tentang kesannya menjaga portal jembatan, Munjirin mengaku terkadang dia menemui orang-orang yang berbeda karakternya, seperti ada yang baik dan memberikan uang, ada yang ketika dibuka portal langsung pergi begitu saja tanpa membayar, dan ada pula warga pengguna yang hanya berkata "nanti ya pulangnya", padahal saat pulangnya pun tak melewati jembatan itu.
"Ya, ada saja yang tidak bayar, tapi saya mencoba mengerti, mungkin gak punya uang. Di Jembatan Jubang sehari bisa ada 100 sampai 150 orang. Jadi pendapatan pun sedapatnya saja dan diberikan ke Kang Gofur, tapi bukan modelnya setoran," ucapnya seraya menyebut dirinya dipesankan pemilik untuk selalu sopan dan ramah kepada warga pengguna.
Penjaga lainnya, Damung (39) asal Brebes, mengatakan, ia sudah bekerja menjaga pos jembatan sejak bulan puasa tahun lalu.