Ridwan Kamil Ilfil Saat Tiba di Puncak Gunung Padang, Berharap Pemandangan Indah Malah Lihat PKL

Gubernur Jabar Ridwan Kamil segera menata kawasan wisata situs megalitikum Gunung Padang di Kabupaten Cianjur.

Ridwan Kamil Ilfil Saat Tiba di Puncak Gunung Padang, Berharap Pemandangan Indah Malah Lihat PKL
dok.tribun
Sejumlah anggota TNI dari Kodim 0608 Cianjur bersama tim peneliti dari Tim Terpadu Riset Mandiri (TTRM) Gunung Padang melakukan upacara di puncak situs Gunung Padang, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Minggu (17/8/2014). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Syarif Abdussalam

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Gubernur Jabar Ridwan Kamil segera menata kawasan wisata situs megalitikum Gunung Padang di Kabupaten Cianjur. Hal serupa akan dilakukan terhadap lokasi wisata lainnya di Jabar, mulai dari Tebing Keraton dan Situ Ciburuy di Bandung Barat, Situ Bagendit di Garut, Waduk Darma di Kuningan, dan Kalimalang di Bekasi.

Pria yang akrab disapa Emil ini mengatakan Jabar diproyeksikan menjadi provinsi pariwisata dan di dalamnya memuat tiga strategi. Pertama adalah membuat pariwisata tipe satu dengan memperbaiki akses infrastruktur.

Masih Ada Bagian Black Box yang Belum Ditemukan, Basarnas: Ternyata Putus

"Contoh ada tebing keraton, tempatnya bagus tapi aksesnya jelek. Itu akan kita investasi sebagai perbaikan aksesibilitas. Ada puluhan air terjun yang bagus di Jabar tapi aksesnya berjibaku dengan dengan lumpur, kita perbaiki jalan berbatu," kata Emil di Gedung Sate, Kamis (1/11/2018).


Tipe dua, kata Emil, adalah penataan destinasi seperti Gunung Padang. Objek wisata sejarah purba ini, katanya, dari awalnya tidak tertata secara profesional akan dibuat menjadi tertata, terawat, dan terjaga dengan baik.

Pada 2019 dengan anggaran sampai Rp 50 miliar per obyek wisata, kata Emil, rencananya penataan tipe dua akan dilakukan terhadap Gedung Sate, Kalimalang, Waduk Darma, Situ Ciburuy, Situ Bagendit, dan Gunung Padang. Emil menilai Gunung Padang mulai diintervensi oleh PKL, terutama di area sakralnya yang harusnya bersih dari perdagangan.


"Saya ke sana naik kemarin capek, ternyata di atas ada tukang mi rebus dengan tenda birunya. Antara berharap klimaks, mengharapkan pemandangan bagus, jadi ilfil. Karena yang namanya pedagang mah di mana ada keramaian, tapi kan enggak bisa begitu. Ini karena enggak ada panduan penataan," katanya.

Emil mengaku khawatir jika dibiarkan berlarut-larut, potensi situs megalitikum dunia ini akan tercemari oleh perilaku komersial dan wisatawan yang tidak semestinya.

"Jadi diagendakan di 2019, mudah-mudahan di akhir tahun kita ke sana melihat lebih bermartabat dan profesional," katanya

Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved