Dana Rp 20 Miliar untuk Membangun Sekolah Olahraga di Jawa Barat
Sekolah olahraga memiliki kurikulum yang memungkinkan atlet tetap latihan dan mengikuti kejuaraan tanpa meninggalkan pelajaran.
Penulis: Theofilus Richard | Editor: Kisdiantoro
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Theofilus Richard
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG – Demi menunjang prestasi dan pembinaan atlet muda, sebuah sekolah olahraga akan dibangun pada awal tahun 2019.
Sekolah olahraga ini akan dibangun menggunakan dana APBN di wilayah Arcamanik.
“Anggarannya sekira Rp 20 miliar, pembangunannya 2019, biaya dari APBN,” ujar Kepala Dinas Olahraga dan Kepemudaan (Disorda) Provinsi Jawa Barat, Yudha M. Saputra, ketika ditemui di Sport Jabar Arcamanik, Bandung, Senin (7/5/2018).
Pada tahun ini, kata Yudha, agenda pembangunan sekolah olahraga masih dalam tahap perencanaan.
“Perencanaan sudah selesai tinggal di-review,” ujarnya.
Menurut Yudha, pembangunan sekolah olahraga sangat penting untuk meningkatkan pembinaan atlet.
Putri Mbak Tutut Menikah, Ini Prosesi Akad, Pernikahan sampai Perancang Busananya https://t.co/KXRsm4nOpQ via @tribunjabar
— Tribun Jabar (@tribunjabar) May 7, 2018
Selama ini atlet memiliki hambatan karena jadwal latihan dan jadwal kejuaraan berbenturan dengan jadwal belajar di sekolah.
Sekolah olahraga memiliki kurikulum yang memungkinkan atlet tetap latihan dan mengikuti kejuaraan tanpa meninggalkan pelajaran di sekolah.
Yudha M. Saputra mengatakan bahwa jam pelajaran siswa tidak akan berubah karena tidak bisa bertentangan dengan kurikulum Kemendikbud.
Sekolah Olahraga tinggal mengatur waktu, kapan atlet harus belajar di dalam kelas dan kapan mereka latihan atau mengikuti kejuaraan.
Baca: Sudah Munggahan Belum? Bentar Lagi Puasa Loh, Ini Asal Kata Munggahan dan Aktivitasnya!
Penggunaan e-learning juga akan diterapkan untuk memudahkan pembelajaran atlet ketika sedang mengikuti latihan atau kejuaraan di luar kota.
Sehingga waktu belajar lima jam per hari tetap diterapkan pada para atlet.
“Sebenarnya sekolah olahraga direncanakan beberapa tahun lalu, karena kami punya PPLP, Pola Pembinaan Olahraga Pelajar. Dulu mereka (atlet) ditempelkan di sekolah umum, semisal atlet usia SD ditaruh di SD umum, bukan di kami. Ke depan kami harus punya sekolah sendiri agar kurikulum bisa disesuaikan kebutuhan kami,” ujarnya.