Hikmah Ramadan
Hakikat Musibah
BIASANYA sesuatu yang dikatakan musibah manakala terjadi bertentangan atau bertolak belakang dengan apa yang diharapkan.
APA sebenarnya musibah itu dan apa hakikatnya? Musibah perlu dipahami agar jangan salah dalam menyikapinya. Biasanya sesuatu yang dikatakan musibah manakala terjadi bertentangan atau bertolak belakang dengan apa yang diharapkan. Misalnya, ingin punya kedudukan, jabatan, lalu tidak memperolehnya kemudian dia jatuh, maka itu disebut musibah. Datangnya musibah diukur dari hawa nafsu seseorang.
Kita mencoba melihat perbedaan antara musibah yang menimpa kepada orang kafir dan musibah yang menimpa orang orang mukmin. Kalau musibah menimpa orang kafir disebut azab (QS As-Sajdah: 34). Allah menyatakan niscaya orang-orang kafir itu akan kami azab mereka, di dunia itu azab yang paling dekat sebelum azab yang paling besar di akhirat. Tapi kalau musibah menimpa orang mukmin adalah bentuk kasih sayang Allah.
Di dalam sebuah hadis Rasullullah saw, jika Allah sudah mencintai suatu kaum karena mereka beriman, maka Allah akan segera menurunkan bala/ujian/cobaan. Jadi musibah dalam kehidupan orang-orang mukmin di dunia itu adalah bentuk kasih sayang Allah.
Ada tiga hal yang mendasari kasih sayang Allah dalam menurunkan musibah kepada orang-orang mukmin:
1. Sebagai ujian, di dalam Alquran surat Al-Ankabut ayat 2-3, Allah swt berfirman: "Adakah manusia mengira mereka akan dibiarkan saja mengatakan kami telah beriman, padahal kami belum lagi menurunkan ujian atau musibah, sungguh telah kami uji umat sebelum mereka dengan ujian itu".
Jelaslah firman Allah, bahwa dari ujian itu, siapa yang benar keimanannya dan siapa yang dusta keimanannya.
Bentuk kasih sayang Allah kepada orang mukmin itu adalah memberikan ujian. Semakin seseorang itu mendekatkan diri kepada Allah maka akan semakin berat ujian yang akan dihadapi atau diberikan. Ujian yang paling berat itu adalah diberikan kepada para Rasul dan para Nabi. Mulai dari kisah Nabi Adam dan Siti Hawa karena memakan buah kholdi.
Mereka harus menghadapi ujian dari Allah swt, mereka diturunkan ke bumi secara terpisah dan mereka berpisah selama ± 200 tahun, Nabi Adam dan Siti Hawa menyadari lalu bertobat selama ± 200 tahun, dan akhirnya mereka dipertemukan kembali.
Lalu kisah Nabi Ibrahim a.s, beliau diuji kesiapan dirinya untuk dibakar hidup-hidup, dan beliau diuji untuk menyembelih putra kesayangannya yaitu Nabi Ismail a.s. Inilah namanya ujian, beranikah kita mengatakan bahwa Allah tidak sayang kepada para Rasul, karena sayangnya Allah itu diwujudkan dalam memberi ujian.
Miskin dan kaya juga ujian dari Allah, ada doa untuk meminta ujian "Ya Allah berikanlah pada kami ujian, cobaan yang sekiranya mampu memikulnya janganlah engkau pikulkan pada pundak kami satu ujian yang sekiranya kami tidak akan pernah mampu untuk memikulnya. Jadi pendek kata hidup kita ini adalah ujian. Seandainya musibah yang diturunkan oleh Allah kepada kita adalah sebagai ujian maka Allhamdulillah kita sedang dicintai oleh Allah dan supaya tingkat keimanan kita bisa naik dimata Allah swt.
2. Ujian berupa musibah sebenarnya Allah swt sedang memberikan sesuatu yang terbaik untuk kita, hanya karena kita tidak pernah bisa memahami hikmah dari apa yang terjadi, lalu kita menganggap itu sebagai musibah, kemampuan kita membaca sesuatu itu pada saat peristiwa terjadi ke belakang. Hikmah peristiwa yang terjadi tidak ada seseorang pun yang bisa memastikan apa yang akan terjadi ke depan.
Rasulullah saw mengatakan: Barang siapa yang menanyakan tentang nasibnya lalu diramal dan dia yakin dengan ramalannya itu maka sungguh dia telah kafir, (QS Luqman: 34), Firman Allah, tidak ada satu jiwa pun yang bisa mengetahui apa yang akan terjadi ke depan dan apabila seseorang percaya maka dia telah kufur.
Karena kita tidak mengetahui apa hikmah dari suatu peristiwa yang sedang menimpa kita lalu kita anggap itu sebagai musibah lalu diratapi, padahal Allah sedang memberikan yang terbaik bagikita. Banyak ayat Alquran yang bisa meyakinkan kita di antaranya QS Al- Baqarah: 216: Boleh jadi kamu tidak menyukai peristiwa yang menimpa dirimu padahal itulah sesungguhnya yang terbaik untukmu.
Tetapi boleh jadi sebaliknya kamu sangat menyukai sesuatu padahal itulah yang sangat buruk bagimu, Allahlah yang Mahatahu sedang kamu tidak tahu.
Jadi ketidakmengertian kita terhadap hakikat hikmah dari satu peristiwa ini kadang-kadang kita berdoa kepada Allah meminta sesuatu yang kalau Allah kabulkan celaka kita. Dalam QS Al-Isra: 11: Terkadang manusia itu berdoa memohon pada Allah sesuatu yang tidak baik, kenapa?