Kelas Menengah Bertambah, Harga Properti Meroket
Jumlah kelas menengah dan juga orang kaya di Indonesia yang tumbuh pesat ditandai kenaikan gross domestic product per kapita menjadi 3,563
Menurut Head of Capital Market and Investment Knight Frank Fakky Ismail Hidayat, kalangan ini menganggap properti masih sebagai primadona instrumen investasi yang sangat menarik ketimbang emas, deposito, saham, obligasi dan sebagainya.
"Mereka berlomba menginvestasikan uangnya di proyek-proyek properti hot dan berpotensi mendatangkan imbal hasil yang menggiurkan. Hanya saja, pasokan properti justru terbatas. Di satu sisi, kondisi yang tak seimbang ini memicu meroketnya harga jual properti sekaligus peluang besar investor untuk mendatangkan keuntungan. Di sisi lain, pengembang justru keteteran memenuhi lonjakan permintaan," ujar Fakky.
Harga jual tipe rumah kecil ukuran 36 m2 misalnya, sudah mencapai Rp 500 juta, sedangkan tipe 45-60 m2 ditawarkan dengan harga terendah Rp 1 miliar. Namun, kendati nilai ini jauh lebih tinggi dibanding dua tahun lalu pada level Rp 300 juta sampai Rp 700 juta, tetap diburu pembeli yang bermotif investor dan end user.
Hal tersebut juga berlaku pada dengan apartemen. Berdasarkan survei Perkembangan Properti Komersial Bank Indonesia, terjadi kenaikan sebesar 2,44 persen pada kuartal akhir 2012 dibandingkan tiga bulan sebelumnya atau sebesar 45,37 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu 2011.
Belum lagi, Jakarta, yang didapuk Pricewaterhouse Cooper dan Urban Land Institute sebagai peringkat pertama kota tujuan investasi realestat global, juga ikut mendongkrak lonjakan harga ini.
"Selain, tentu saja, melejitnya harga lahan karena ketersediaannya yang terbatas di kota Jakarta dan sekitarnya," imbuh Fakky.
Kawasan-kawasan seperti Serpong, Cibubur, Depok, Bogor, Sentul dan Bekasi akan tetap diburu karena dirancang terintegrasi serta dilengkapi fasilitas pendukung dan memiliki aksesibilitas yang baik. Harga propertinya yang masih relatif kompetitif akan terus naik seiring dengan meningkatnya jumlah permintaan. Dengan demikian, potensi pertumbuhan harga akan sangat besar persentasenya, sekitar 25 persen sampai 30 persen. (*)