Okupansi Hotel Tidak Lebihi 40 Persen
Ketua DPD PHRI Jabar, Herman Muchtar, tidak memungkiri adanya fenomena mengenai terjadinya praktik persewaan apartemen.
Penulis: | Editor: Darajat Arianto
"Saat ini, kami menduga kuat, terjadi banyak alih
fungsi apartemen, yang disewakan pemiliknya, menjadi seperti hotel,"kata Herman, Kamis (3/5).
Menurutnya, kondisi itu dapat mengancam eksistensi dunia perhotelan
di Jabar, termasuk Kota Bandung. Ancamannya berpotensi
membuat tingkat hunian kamar (okupansi) menyusut.
Padahal,
lanjutnya, saat ini saja, tingkat okupansi hotel di Jabar, pada weekday,
sangat mengkhawatirkan. Rata-rata, sebutnya, okupansinya tidak melebihi
40 persen. "Adanya praktik persewaan apartemen itu dapat membuat
tingkat hunian hotel, terutama, pada weekday, menjadi lebih susut lagi,"
ucapnya.
Memang, kata Herman, pada weekend, terutama long weekend,
kamar-kamar hotel di Jabar, khususnya, Kota Bandung, habis terpesan.
Itu terjadi karena Bandung menjadi daerah tujuan wisata belanja. "Tapi,
sebenarnya, jangan hanya memperhatikan weekend dan long weekend.
Perhatikan saat weekday. Banyak kamar hotel yang kosong," ucap Herman.
Ketua DPD PHRI Kota Bandung, Momon Abdurachman, mengamini bahwa saat
ini, tingkat hunian kamar perhotelan, khususnya, di Kota Bandung,
tergolong memprihatinkan.
"Secara rata-rata, saat weekday, 65 persen kamar hotel tidak terisi. Artinya, okupansi hotel di Kota Bandung pada saat weekday hanya mencapai 35 persen. Sedangkan pada weekend, sekitar 52 persen. Sementara long weekend, sekitar 60-65 persen," paparnya. (*)