Okupansi Hotel Tidak Lebihi 40 Persen
Kamis, 3 Mei 2012 16:34 WIB

Gani Kurniawan
ILUSTRASI KAMAR HOTEL
ILUSTRASI KAMAR HOTEL
Berita Terkait
- Pelepasan Merpati Warnai Ultah GH Universal Hotel
- Menikmati Pemandangan Kota Bandung dari Kafe Hotel
- Amaris Hotel Pilih Lokasi Dekat Mal
- Maret 2013, Hunian Kamar Hotel Juga Naik
- Hotel Bintang Tawarkan Ragam Paket Pernikahan
- Uang Senang Lingkungannya Dibersihkan Karyawan Hotel…
- Ibis Bandung Trans Studio Bersihkan Lingkungan RW…
- Erik R Tumbelaka Jadi GM Aerowisata Grand Hotel Preanger
- Arion Swiss-Belhotel Bandung Manjakan Wanita di Hari…
- Nasi Krawu Ala Arion Swiss-Belhotel Bandung
BANDUNG, TRIBUN -
Ketua DPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jabar, Herman
Muchtar, tidak memungkiri adanya fenomena mengenai terjadinya praktik
persewaan apartemen.
"Saat ini, kami menduga kuat, terjadi banyak alih fungsi apartemen, yang disewakan pemiliknya, menjadi seperti hotel,"kata Herman, Kamis (3/5).
Menurutnya, kondisi itu dapat mengancam eksistensi dunia perhotelan di Jabar, termasuk Kota Bandung. Ancamannya berpotensi membuat tingkat hunian kamar (okupansi) menyusut.
Padahal, lanjutnya, saat ini saja, tingkat okupansi hotel di Jabar, pada weekday, sangat mengkhawatirkan. Rata-rata, sebutnya, okupansinya tidak melebihi 40 persen. "Adanya praktik persewaan apartemen itu dapat membuat tingkat hunian hotel, terutama, pada weekday, menjadi lebih susut lagi," ucapnya.
Memang, kata Herman, pada weekend, terutama long weekend, kamar-kamar hotel di Jabar, khususnya, Kota Bandung, habis terpesan. Itu terjadi karena Bandung menjadi daerah tujuan wisata belanja. "Tapi, sebenarnya, jangan hanya memperhatikan weekend dan long weekend. Perhatikan saat weekday. Banyak kamar hotel yang kosong," ucap Herman.
Ketua DPD PHRI Kota Bandung, Momon Abdurachman, mengamini bahwa saat ini, tingkat hunian kamar perhotelan, khususnya, di Kota Bandung, tergolong memprihatinkan.
"Secara rata-rata, saat weekday, 65 persen kamar hotel tidak terisi. Artinya, okupansi hotel di Kota Bandung pada saat weekday hanya mencapai 35 persen. Sedangkan pada weekend, sekitar 52 persen. Sementara long weekend, sekitar 60-65 persen," paparnya. (*)
"Saat ini, kami menduga kuat, terjadi banyak alih fungsi apartemen, yang disewakan pemiliknya, menjadi seperti hotel,"kata Herman, Kamis (3/5).
Menurutnya, kondisi itu dapat mengancam eksistensi dunia perhotelan di Jabar, termasuk Kota Bandung. Ancamannya berpotensi membuat tingkat hunian kamar (okupansi) menyusut.
Padahal, lanjutnya, saat ini saja, tingkat okupansi hotel di Jabar, pada weekday, sangat mengkhawatirkan. Rata-rata, sebutnya, okupansinya tidak melebihi 40 persen. "Adanya praktik persewaan apartemen itu dapat membuat tingkat hunian hotel, terutama, pada weekday, menjadi lebih susut lagi," ucapnya.
Memang, kata Herman, pada weekend, terutama long weekend, kamar-kamar hotel di Jabar, khususnya, Kota Bandung, habis terpesan. Itu terjadi karena Bandung menjadi daerah tujuan wisata belanja. "Tapi, sebenarnya, jangan hanya memperhatikan weekend dan long weekend. Perhatikan saat weekday. Banyak kamar hotel yang kosong," ucap Herman.
Ketua DPD PHRI Kota Bandung, Momon Abdurachman, mengamini bahwa saat ini, tingkat hunian kamar perhotelan, khususnya, di Kota Bandung, tergolong memprihatinkan.
"Secara rata-rata, saat weekday, 65 persen kamar hotel tidak terisi. Artinya, okupansi hotel di Kota Bandung pada saat weekday hanya mencapai 35 persen. Sedangkan pada weekend, sekitar 52 persen. Sementara long weekend, sekitar 60-65 persen," paparnya. (*)
Penulis : win
Editor : dar