Tebing Ambrol Timpa Pekerja

Bukan Sakti, Ini Penyebab Ahmid Selamat dari Longsor Maut Jatinangor Meski Tertimbun 10 Menit

Lantas, apa yang menyebabkan Ahmid dan anaknya, Dian (41), bisa selamat dari bencana tersebut?

Penulis: Kiki Andriana | Editor: Ravianto
Tribun Jabar/Kiki Andriana
KORBAN LONGSOR - Amid (71), korban yang tertimbun longsor tebing di Desa Cisempur, saat ditemui Tribun Jabar, di RS Universitas Padjajaran, Jatinangor, Sumedang, Sabtu (3/1/2026) petang. 

Ringkasan Berita:
  • Ahmid selamat karena saat kejadian berada di pinggir area longsor, bukan di pusat galian pondasi.
  • Sempat mendengar teriakan peringatan "awas pak" sesaat sebelum tembok setinggi 7 meter ambruk.
  • Berhasil dievakuasi warga dalam waktu kritis 10 menit sehingga terhindar dari sesak napas akut.
  • Mengalami luka ringan meski tertimbun, Ahmid menepis isu "sakti" dan menyebutnya murni anugerah Allah.

TRIBUNJABAR.ID, SUMEDANG - Ahmid (71), salah satu korban selamat dari tragedi ambruknya Tembok Penahan Tanah (TPT) di Desa Cisempur, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, membagikan kisahnya.

Meski tertimbun material tanah selama hampir 10 menit, Ahmid berhasil lolos dari maut yang merenggut nyawa empat rekan kerjanya.

Lantas, apa yang menyebabkan Ahmid dan anaknya, Dian (41), bisa selamat dari bencana tersebut?

Berikut adalah faktor-faktor kunci yang dirangkum dari kesaksian korban:

1. Posisi di Pinggir Titik Utama Longsor

Faktor utama keselamatan Ahmid adalah posisinya saat kejadian.

Baca juga: Daftar Nama 6 Korban Tertimbun Tebing Runtuh di Jatinangor, 2 Orang Selamat Warga Cisempur Sumedang

Berbeda dengan empat korban meninggal yang berada di bagian tengah dan bawah untuk menggali pondasi, Ahmid saat itu berada di area pinggir.

"Saya di pinggir, mau ambil air. Yang lain di tengah, di bawah lagi gali tanah," kenang Ahmid saat ditemui di RS Unpad Jatinangor, Sabtu petang.

Posisi di pinggir ini membuat timbunan tanah yang menerjangnya tidak seberat korban yang berada di pusat galian.

KORBAN SELAMAT - Dian (baju merah) korban yang tertimbun longsor tebing  saat ditemui Tribun Jabar, di RS Universitas Padjajaran, Jatinangor, Sumedang, Sabtu (3/1/2026) petang. Dian berhasil selamat setelah berteriak minta tolong.
KORBAN SELAMAT - Dian (baju merah) korban yang tertimbun longsor tebing  saat ditemui Tribun Jabar, di RS Universitas Padjajaran, Jatinangor, Sumedang, Sabtu (3/1/2026) petang. Dian berhasil selamat setelah berteriak minta tolong. (Tribun Jabar/Kiki Andriana)

2. Adanya Peringatan Dini (Teriakan Warga)

Sesaat sebelum TPT setinggi 7 meter itu ambruk, Ahmid sempat mendengar teriakan peringatan.

Hal ini memberinya waktu sepersekian detik untuk bereaksi, meskipun longsor datang sangat cepat.

"Ada yang teriak, ‘awas pak’, tapi enggak lama langsung rubuh," tuturnya.

3. Penyelamatan Cepat dalam Golden Time (10 Menit)

Ahmid menceritakan dirinya sempat terkubur dalam gelap dan sulit bernapas karena tekanan tanah di dada.

Namun, ia berhasil dievakuasi warga dalam waktu kurang dari 10 menit.

Kecepatan evakuasi warga sekitar sebelum bantuan SAR tiba menjadi kunci ia tidak kehabisan oksigen.

"Hampir habis (napas). Alhamdulillah keburu ada bantuan dari warga," ujarnya.

4. Kondisi Fisik yang Tidak Mengalami Luka Vital

Berbeda dengan korban lain yang tertimpa material berat di titik pusat, Ahmid hanya mengalami luka gores dan sesak akibat tekanan tanah.

Ia menolak anggapan dirinya "sakti" dan lebih memilih menyebut keselamatannya sebagai anugerah Tuhan.

"Ah itu mah berkat Allah saja. Belum waktunya saya meninggal," kata Ahmid lirih.(*)

Laporan wartawan Tribun Jabar, Kiki Andriana 

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved