Breaking News
Rabu, 13 Mei 2026

Ramadhan 2026

Kisah Davic Cailleba Menjemput Hidayah, Awalnya Islam KTP, Tergerak saat Lihat Teman Bersujud

Di balik kemahiran David Cailleba mengolah bumbu Nusantara, tersimpan sebuah perjalanan spiritual yang panjang.

Tayang:
Tribun Jabar/Muhamad Nandri Prilatama
BAGI TAKJIL - Potret David Cailleba (55) Chef asal Perancis yang sengaja memasak untuk bagi-bagi takjil di wilayah Sarijadi, Kamis (19/2/2026). 

Ringkasan Berita:
  • David Cailleba (55), pria asal Perancis yang kini dikenal sebagai “Bule Tukang Masak” di Bandung, memutuskan masuk Islam pada 2007 saat hendak menikah dengan wanita asal Baleendah.
  • Ia mengaku awalnya memeluk Islam hanya demi pernikahan (“Islam KTP”), dan baru benar-benar mendalami ajaran Islam pada 2013 berkat kesabaran istrinya serta pengalaman spiritual melihat seorang temannya menangis saat salat malam.
  • Titik balik keimanannya semakin kuat setelah menghadapi ujian hidup

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Di sebuah sudut kawasan Sarijadi, Kota Bandung, aroma rempah menyeruak dari dapur pria berperawakan Eropa. 

David Cailleba (55) atau kini lebih akrab disapa 'Bule Tukang Masak' oleh jagat maya, sedang asyik dengan dunianya. Namun, di balik kemahirannya mengolah bumbu Nusantara, tersimpan sebuah perjalanan spiritual yang panjang. Sebuah kisah tentang kesabaran seorang istri dan hidayah yang datang di keheningan malam.

Lahir di Perancis, David membawa memori masa mudanya sebagai nelayan dan pekerja katering ke tanah air. Namun, bukan sekedar urusan perut yang membuatnya betah menetap belasan tahun di Indonesia. Ada ikatan batin yang bermula pada 2007, saat dia memutuskan memeluk agama Islam dan menikah. Dia pun mendapatkan saran dari dai kondang, Aa Gym atau Abdullah Gymnastiar.

Baca juga: Semarak Ramadan di Masjid Lautze 2 Bandung, Siapkan 700-1.500 Takjil Tiap Hari hingga Bina Mualaf

"Waktu itu, jujur saja. Saya masuk Islam hanya untuk menikah. Istilahnya Islam KTP," kenangnya dengan nada jujur yang kental saat berbincang, Kamis (19/2/2026).

Pernikahannya dengan wanita asal Baleendah, Kabupaten Bandung, dikaruniai dua orang putra yang kini beranjak remaja. Namun, selama enam tahun pertama pernikahan, David mengaku belum benar-benar 'menemukan' Islam. Dia menjalani hidup dengan ego yang masih tinggi, sementara sang istri setia mendampingi dalam diam dan doa.

"Masya Allah, saya memiliki istri yang salehah dan sabar. Dia menunggu saya sejak 2007 hingga akhirnya saya benar-benar tergerak mempelajari Islam pada 2013," katanya.

Bagi David, bagi seorang warga negara asing, berpindah agama mungkin terlihat mudah secara administratif, namun urusan hati adalah perkara lain.

Titik balik itu datang secara tak terduga, pada 2013. David menyaksikan sebuah pemandangan yang meruntuhkan logikanya. Dia melihat seorang kawan, pria kaya raya, sehat, dan memiliki segalanya sedang bersujud dan menangis tersedu-sedu di sepertiga malam.

"Dia punya segalanya, tapi mengapa menangis sejadi-jadinya di depan Allah? Saya merasa, kalau dia yang sudah punya segalanya saja masih meminta dan menangis, kenapa saya tidak?" ujarnya lirih.

Sejak saat itu, David memutuskan untuk menanggalkan egonya dan mulai menyelami makna ibadah dengan sungguh-sungguh. Ujian keimanan juga datang saat dia kehilangan sang ayah pada 2016. 

Meski tak sempat membimbing ayahnya bersyahadat di saat-saat terakhir di ruang UGD Perancis, David memilih berprasangka baik pada takdir Allah.

Kini, David bukan lagi bule yang mengeluh haus saat melihat orang makan nasi bungkus di siang hari Ramadan. Dia bahkan sudah mulai melatih diri dengan puasa Daud. 

Baca juga: Kisah koh Oey Kian Wie Menjadi Mualaf: Temukan Ketenangan Zikir di Laut Lepas

Untuk menjaga stamina, dia memiliki resep khusus, guna menghindari nasi saat berbuka puasa Ramadan, dan beralih ke teh jahe, cengkeh, kayu manis, serta kurma.

Kecintaannya pada kesehatan juga dibuktikan dengan rutin berbekam selama 13 tahun, sebuah tradisi pengobatan yang kini juga dilakukan istri dan anak-anaknya. Sebagai seorang chef, David mengaku jatuh cinta pada kekayaan rempah Indonesia. Baginya, masakan Nusantara sebagai harta karun yang tak dimiliki Eropa.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved