Ferry Irwandi dan Solidaritas Digital: Donasi Rp10,3 Miliar dalam Kacamata Uses and Gratifications
Dalam 24 jam, lebih dari Rp10,3 miliar terkumpul dari 87 ribu donatur. Angka ini tidak hanya mencerminkan keprihatinan publik terhadap bencana.
Oleh: Kelvin Mohammad Yusron
TRIBUNJABAR.ID - Fenomena donasi yang digalang oleh pendiri Malaka Project Ferry Irwandi melalui Kitabisa.com untuk korban banjir Sumatera menjadi salah satu momentum sosial paling penting tahun ini.
Dalam 24 jam, lebih dari Rp10,3 miliar terkumpul dari 87 ribu donatur. Angka ini tidak hanya mencerminkan keprihatinan publik terhadap bencana kemanusiaan, tetapi juga menandai perubahan mendasar dalam perilaku konsumsi media masyarakat Indonesia.
Publik kini tidak lagi pasif menerima informasi, mereka aktif memilih figur, kanal, dan model komunikasi yang dianggap paling relevan dan tepercaya.
Untuk memahami fenomena ini, Uses and Gratifications Theory (U&G) yang dipopulerkan oleh Katz, Blumler, dan Gurevitch (1973–1974) menjadi landasan teoritis yang kuat.
Teori ini menempatkan audiens sebagai pihak yang aktif menggunakan media untuk memenuhi kebutuhan kognitif, emosional, identitas, hingga integrasi sosial.
Sejalan dengan itu, riset terbaru memperlihatkan bahwa pengguna media sosial cenderung memilih platform dan figur berdasarkan motif informasi, interaksi sosial, ekspresi diri, serta identitas digital (Suparmo, 2017; Arifin, 2022).
Pola tersebut tampak jelas dalam cara publik merespons konten-konten Ferry dan kemudian tergerak berdonasi secara masif.
Pertama, kebutuhan informasi dan kredibilitas figur media.
Dalam situasi bencana, masyarakat menghadapi limpahan informasi yang sulit diverifikasi. Karena itu, kebutuhan akan informasi yang akurat, cepat, dan dapat dipercaya menjadi sangat dominan.
Konten-konten Ferry, berisi pemetaan area terdampak, kebutuhan logistik, serta laporan penggunaan dana mengisi kebutuhan kognitif tersebut.
Konsistensi dan transparansi seperti ini membuat publik merasa berada di tangan yang tepat, karena kompetensi dan integritas adalah fondasi persepsi kepercayaan di ruang digital (Rachmawati & Solikhati, 2023).
Di titik ini, publik bukan hanya mencari informasi, tetapi juga figur yang mampu memberikan sense of certainty.
Kedua, kebutuhan emosional dan empati yang memobilisasi.
Bencana besar selalu membawa rasa sedih, takut, dan ketidakberdayaan. Narasi Ferry yang humanis kisah warga, kondisi lapangan, proses evakuasi mengaktifkan kebutuhan emosional audiens.
Empati yang muncul tidak berhenti sebagai perasaan, tetapi berubah menjadi dorongan untuk bertindak.
Di media sosial, respons emosional seperti ini sering memicu anticipated affect, yaitu keinginan mengurangi penderitaan pihak lain karena kita membayangkan bagaimana rasanya berada di posisi mereka.
Donasi pun menjadi bentuk penyaluran emosi sekaligus cara memulihkan keseimbangan psikologis.
Ketiga, kebutuhan identitas moral dan ekspresi nilai.
Di era digital, tindakan berdonasi membawa dimensi identitas. Publik tidak ingin sekadar menyaksikan tragedi tetapi mereka ingin dianggap sebagai bagian dari solusi.
Ketika seseorang berdonasi, ia sedang menegaskan nilai moral yang diyakininya. Platform digital memperkuat hal tersebut dengan memberikan ruang ekspresi, sehingga donasi bukan hanya sebagai transaksi finansial, tetapi juga pernyataan identitas prososial.
Dengan berdonasi, seseorang dapat berkata kepada dirinya sendiri: “Saya peduli. Saya berbuat sesuatu.”
Keempat, kebutuhan integrasi sosial dan rasa kebersamaan.
Lonjakan donasi memperlihatkan terbentuknya komunitas solidaritas digital yang spontan. Ribuan komentar, unggahan ulang, percakapan publik, semuanya menciptakan rasa kebersamaan yang tidak dimediasi oleh organisasi formal.
Dalam kerangka U&G, kebutuhan integrasi sosial sering kali menjadi alasan seseorang terus mengikuti sebuah figur atau isu tertentu.
Ketika orang merasa terhubung dengan sesama donatur, partisipasi mereka meningkat karena solidaritas memperkuat motivasi kolektif. Kebersamaan ini membuat tindakan donasi terasa sebagai gerakan bersama, bukan aksi individu semata.
Kelima, kebutuhan pelepasan ketegangan dan kendali emosional.
Kecemasan kolektif mudah muncul ketika bencana terjadi. Donasi berfungsi sebagai mekanisme pelepasan ketegangan (tension release).
Dengan berkontribusi, publik memulihkan rasa kendali di tengah situasi yang tidak pasti. Banyak riset psikologi prososial menunjukkan bahwa tindakan membantu dapat menurunkan distress emosional sekaligus meningkatkan well-being.
Dalam konteks banjir Sumatera, berdonasi menjadi cara publik “melakukan sesuatu” ketika banyak hal tampak di luar kendali.
Keenam, pergeseran kepercayaan: dari institusi ke figur personal.
Hal menarik lainnya adalah bagaimana kepercayaan publik kini lebih sering jatuh kepada figur personal dibanding institusi besar atau pemerintah.
Hal ini sejalan dengan kultur digital yang menghargai otentisitas, transparansi, dan kedekatan emosional. Ferry Irwandi muncul sebagai figur yang memenuhi tiga aspek tersebut.
Hubungan interpersonal yang terbangun di media sosial meski bersifat satu-ke-banyak, tetap menciptakan rasa kedekatan yang membuat publik merasa aman menitipkan kepercayaan mereka.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana kredibilitas personal dapat menyaingi dan bahkan melampaui kredibilitas institusional.
Penutup
Donasi Rp10,3 miliar bukan hanya angka spektakuler. Ia merupakan representasi solidaritas digital sebagai cara baru masyarakat Indonesia berpartisipasi dalam isu kemanusiaan.
Dalam kerangka Uses & Gratifications, tindakan donasi ini mencerminkan bagaimana publik memenuhi kebutuhan informasi, emosional, identitas, sosial, dan psikologis melalui media.
Fenomena ini juga menunjukkan bahwa ketika media sosial dikelola dengan transparansi, empati, dan tanggung jawab, ia mampu mengubah perhatian publik menjadi gerakan kolektif yang nyata.
Dan dari sanalah kita melihat wajah baru solidaritas Indonesia di era digital cepat, partisipatif, dan digerakkan oleh kepercayaan terhadap figur yang dianggap autentik.
*) Penulis adalah Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran.
Referensi:
Arifin, R. M. F. (2022). Aplikasi teori uses and gratifications pada media sosial Instagram di Indonesia. Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia, 7(2), 1845–1856
Rachmawati, D., & Solikhati, K. (2020). Digital altruism: strategi kepercayaan pendonasi Kitabisa.com dalam membangun solidaritas sosial. Jurnal Kajian Media, 4(1), 22–39. https://doi.org/10.25139/jkm.v4i1.2365
Suparmo, L. (2017). Uses and Gratifications Theory dalam Media Sosial WA (WhatsApp). Communicology: Jurnal Ilmu Komunikasi, 5(2), 27–37. https://doi.org/10.21009/communicology.062.02
| Tepukan Tangan Siswa SMPN 1 Tanjungsari Sambut Ikhsan yang Viral Putus Sekolah Akhirnya Kembali |
|
|---|
| Iwan Koswara Manfaatkan Ramadan untuk Perkuat Solidaritas Kader PSI Kota Bekasi |
|
|---|
| Hijrah Politik! Nina Agustina Tinggalkan PDIP, Perkuat Barisan Partai Solidaritas Indonesia |
|
|---|
| Respon PDIP Jabar setelah Nina Agustina Menyeberang ke PSI: Ini Rumah Ideologis, Bukan Rumah Singgah |
|
|---|
| Resmi Tinggalkan PDIP, Nina Agustina Sowan ke Rumah Jokowi di Solo Bawa Misi Baru Bersama PSI |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Kelvin-Mohammad-Yusron-Mahasisw.jpg)