Rabu, 15 April 2026

Kanopi Pasar Sehat Soreang Ambruk

Pakar Konstruksi ITB Menilai Tak Wajar Kanopi Pasar Soreang Ambruk Begitu Saja

Pasar Sehat Soreang diketahui baru selesai direvitalisasi pada 2023 atau baru berusia sekitar dua tahun.

Ringkasan Berita:
  • Ambruknya kanopi di Pasar Sehat Soreang, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, pada Senin (16/3/2026), menyisakan duka sekaligus tanda tanya besar 
  • Pasalnya, bangunan tersebut diketahui baru selesai direvitalisasi pada 2023 atau baru berusia sekitar dua tahun
  • Pakar Teknik Sipil ITB menilai secara teknis, runtuhnya bangunan publik yang masih tergolong baru bukanlah hal yang wajar
  • Dalam perspektif teknik sipil, ada sejumlah faktor yang bisa menyebabkan bangunan ambruk 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Ambruknya kanopi di Pasar Sehat Soreang, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, pada Senin (16/3/2026), menyisakan duka sekaligus tanda tanya besar. 

Pasalnya, bangunan tersebut diketahui baru selesai direvitalisasi pada 2023 atau baru berusia sekitar dua tahun.

Bagian kanopi yang runtuh berada di blok 3, tepatnya di area belakang pasar. Puing-puing material berupa beton, besi, hingga baja ringan tampak berserakan di jalan.

Rangka penyangga kanopi ikut yang menimpa beberapa barang dagangan milik pedagang serta satu unit sepeda motor.

Ada empat orang tertimpa dalam kejadian tersebut. Tiga orang mengalami luka-luka, sementara satu orang lainnya dilaporkan meninggal dunia.

Menanggapi peristiwa tersebut, pakar Teknik Sipil dari Institut Teknologi Bandung sekaligus Ketua Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia, Prof Ir Iswandi Imran, menegaskan bahwa secara teknis, runtuhnya bangunan publik yang masih tergolong baru bukanlah hal yang wajar.

Baca juga: Petaka Giling Tepung di Pasar Sehat Soreang, Cucu Tertimpa Kanopi Beton Hingga Luka Parah

Menurut Iswandi, dalam perspektif teknik sipil, ada sejumlah faktor yang bisa menyebabkan bangunan ambruk meskipun usianya masih relatif baru. Ia menekankan bahwa penyebabnya bisa berasal dari berbagai tahapan, mulai dari perencanaan hingga penggunaan dan perawatan.

“Bisa salah desain, kualitas material yg kurang baik atau salah pelaksanaan. Hal lain yang juga bisa memicu, ada overload dan juga kurang perawatan,” kata dia.

Terkait dengan status bangunan yang disebut telah mengantongi sertifikasi, Iswandi meluruskan bahwa hal tersebut kemungkinan merujuk pada sertifikat laik fungsi. 

Namun, ia menegaskan bahwa sertifikasi tersebut tidak serta-merta menjamin keamanan bangunan jika tidak diikuti dengan penggunaan dan pengelolaan yang baik.

“Pengelola bangunan seharusnya merawat bangunan dan memastikan bangunan selalu dalam kondisi sehat. Kalau tidak ada kejadian khusus seperti gempa dan lain-lain, sebelum bagian bangunan runtuh, biasanya ada warning atau tanda-tanda yang terlihat,” jelasnya.

Iswandi juga menyoroti kemungkinan adanya beban berlebih (overload) sebagai pemicu runtuhnya kanopi, terutama jika terjadi masalah pada sistem drainase atap.

“Kalau pipa pembuangan air dari atap mampet, air hujan akan menggenangi dan terakumulasi di atap dan menimbulkan beban tambahan. Untuk struktur kanopi, kondisi tanah tidak langsung berpengaruh karena struktur kanopi tersebut berupa struktur kantilever yang menggantung. Jika ternyata pipa tersebut memang mampet dan menjadi penyebab overload, artinya bangunan tidak terawat dengan baik,” paparnya.

Baca juga: Lebaran Tahun Ini Sedikit Berbeda, Beckham Mengaku Tetap Fokus Ke Timnas

Untuk memastikan penyebab pasti dari insiden ini, Iswandi menekankan pentingnya dilakukan investigasi menyeluruh melalui kajian forensik konstruksi.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved