Kamis, 14 Mei 2026

KPID Jabar Petakan Ancaman Media Digital bagi Gen Z, Soroti Ideologi hingga Keamanan Data

Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat, memetakan perilaku konsumsi media digital generasi muda atau Gen Z.

Tayang:
Tribun Jabar/Nazmi Abdurrahman
Ketua KPID Jabar, Adiyana Slamet, saat diskusi Nyemah Atikan Penyiaran rangkaian Hari Penyiaran Daerah (Harsiarda) bertajuk Gen Z Media Habits: A Pancagatra Perspective di Aula Mandalasaba Universitas Pasundan (Unpas), Bandung, Rabu (13/5/2026). 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat, memetakan perilaku konsumsi media digital generasi muda atau Gen Z dan menemukan ancaman serius terhadap ideologi, sosial budaya, hingga keamanan data.

Temuan tersebut dipaparkan dalam diskusi nyemah atikan penyiaran rangkaian Hari Penyiaran Daerah (Harsiarda) bertajuk Gen Z Media Habits: A Pancagatra Perspective di Aula Mandalasaba Universitas Pasundan (Unpas), Bandung, Rabu (13/5/2026).

Ketua KPID Jabar, Adiyana Slamet, mengatakan media digital kini tidak lagi sekadar menjadi ruang komunikasi, tetapi sudah berkembang menjadi arena strategis yang memengaruhi ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, hingga pertahanan dan keamanan.

“Kami melihat situasinya sudah darurat dalam berbagai aspek, termasuk dalam konteks Pancagatra,” ujar Adiyana.

Menurutnya, pembahasan kali ini merupakan pengembangan dari kajian sebelumnya yang hanya berfokus pada aspek psikologi. Dalam penelitian terbaru, KPID menggunakan pendekatan Pancagatra yang mencakup aspek ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, serta pertahanan dan keamanan.

Adiyana menilai pengaruh media digital tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga berpotensi mengubah struktur kehidupan berbangsa. Sehingga, KPID Jabar melakukan pemetaan sebagai dasar penyusunan rekomendasi kebijakan.

“Kita ingin melihat apakah media ini mendekonstruksi ideologi, politik, sosial budaya, ekonomi, hingga pertahanan dan keamanan,” katanya.

Penelitian tersebut dilakukan selama enam bulan pada 2025 dengan melibatkan 601 responden berusia 15 hingga 24 tahun di enam klaster wilayah Jawa Barat. Kajian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan margin off error lima persen.

Hasil penelitian menunjukkan 76,71 persen responden mendukung nilai Pancasila di ruang digital. Namun, sebanyak 64,73 persen responden mengaku menemukan pengaruh ideologi asing yang diperkuat fenomena echo chamber.

Pada aspek politik, sekitar 80 persen responden mendukung regulasi konten digital. Meski demikian, 80,20 persen mengakui pandangan politik mereka dipengaruhi media sosial.

Kondisi tersebut dinilai menunjukkan tingginya risiko paparan hoaks dan filter bubble yang dapat memengaruhi kualitas demokrasi. Media digital disebut memiliki peran besar dalam membentuk persepsi politik generasi muda.

Dalam aspek ekonomi, sebanyak 89,18 persen Gen Z menunjukkan antusiasme tinggi terhadap ekonomi kreatif digital. Namun, potensi tersebut dibayangi dominasi platform asing dan ketimpangan akses digital.

Sementara pada dimensi sosial budaya, sebanyak 73,21 persen responden percaya media digital dapat memperkuat budaya lokal. Sebanyak 77 persen responden tertarik terhadap konten Sunda, tetapi 52,41 persen mengakui budaya asing masih mendominasi ruang digital.

Fenomena phubbing juga dialami lebih dari 70 persen responden. Kondisi tersebut dinilai berdampak pada menurunnya kualitas interaksi sosial dan etika komunikasi.

Pada aspek pertahanan dan keamanan, sebanyak 85,19 persen responden menyadari pentingnya perlindungan data pribadi. Namun, 86,35 persen mengaku pernah mengalami atau mengetahui penyalahgunaan data pribadi.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved