Senin, 11 Mei 2026

Sekolah Maung yang Digagas KDM Jadi Sorotan, Pengamat: Perlu Peta Pendidikan Jelas

Menurut Cecep, keberadaan Sekolah Maung jangan hanya berhenti pada satu sekolah unggulan di setiap daerah

Tayang:
Tribun Cirebon/ Ahmad Imam Baehaqi
SMAN 3 Bandung - Suasana SMAN 3 Bandung di Jalan Belitung, Kota Bandung, Selasa (24/6/2025). 

Ringkasan Berita:
  • Cecep Darmawan menilai Sekolah Maung perlu peta pendidikan jelas agar tidak menimbulkan kesenjangan antarsekolah.
  • Ia menekankan perluasan bertahap sesuai potensi sekolah, dengan spesialisasi berbeda seperti olahraga, seni, atau teknologi.
  • Forum Kepala Sekolah SMA Swasta mengkritik program ini karena berpotensi menciptakan diskriminasi dan sekat dalam pendidikan.

Laporan Wartawan TribunJabar.id, Nazmi Abdurrahman

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pengamat Kebijakan Pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia, Cecep Darmawan menilai program Sekolah Manusia Unggul (Maung) yang digagas Pemprov Jabar harus disertai peta pendidikan yang jelas agar tidak menimbulkan kesenjangan antarsekolah di Jawa Barat.

Menurut Cecep, keberadaan Sekolah Maung jangan hanya berhenti pada satu sekolah unggulan di setiap daerah, tetapi harus terus diperluas secara bertahap sesuai potensi masing-masing sekolah.

“Sekolah Maung jalan saja. Tapi yang bukan maung, harus dijadikan maung juga. Jadi harus dibuat pemetaan, misalnya lima tahun atau 10 tahun ke depan supaya terus bertambah,” ujar Cecep, Senin (11/5/2026).

Baca juga: Dedi Mulyadi Tinggal Tunggu Restu Kemendikdasmen, Sekolah Maung Jabar Mulai Dibuka 2026

Cecep mengatakan, konsep Sekolah Maung berbeda dengan program Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) yang sebelumnya dihapus Mahkamah Konstitusi, karena dinilai diskriminatif dan membebani biaya pendidikan.

Menurut dia, RSBI hanya menitikberatkan pada prestasi akademik, sedangkan Sekolah Maung juga membuka ruang bagi prestasi non-akademik.

“Kalau RSBI hanya akademik. Sekolah Maung ada akademik dan non-akademik,” katanya.

Cecep menyebut, Pemprov Jabar harus memiliki arah pengembangan pendidikan yang terukur agar setiap sekolah memiliki peluang menjadi Sekolah Maung sesuai keunggulan masing-masing.

Cecep mencontohkan, setiap sekolah dapat diarahkan memiliki spesialisasi berbeda, seperti olahraga, seni, teknologi, atau bidang lainnya.

“Jangan seragam. Sekolah A unggul di bidang tertentu, sekolah B di bidang lain. Jadi sekolah itu menjadi maung sesuai potensi dan keunggulannya masing-masing,” ucapnya.

Cecep menilai, penambahan jumlah Sekolah Maung secara bertahap dapat mencegah kecemburuan antarsekolah negeri. Sebaliknya, tanpa pemetaan yang jelas, program tersebut berpotensi memunculkan kesan eksklusif.

Baca juga: Daftar 28 SMA dan 13 SMK di Jabar yang Akan Jadi Sekolah Maung, Dimulai pada Tahun Ajaran 2026/2026

“Kalau tidak dipetakan akan terjadi seperti itu. Tapi kalau dipetakan semua bisa jadi maung,” katanya.

Sementara itu, Forum Kepala Sekolah SMA Swasta Jawa Barat turut mengkritik rencana penerapan Sekolah Maung pada tahun ajaran 2026/2027.

Ketua Umum FKSS Jabar, Ade D. Hendriana menilai program tersebut berpotensi menciptakan sekat dalam dunia pendidikan tingkat SMA dan SMK di Jawa Barat.

“Program Sekolah Manusia Unggul akan memunculkan diskriminasi dalam pendidikan dan membuat sekat antara lembaga pendidikan,” ujar Ade.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved