Minggu, 3 Mei 2026

Ricuh May Day di Bandung

Dishub Bandung Segera Perbaiki Lampu dan Jaringan Optik yang Rusak Imbas Kericuhan di Simpang Dago

May Day di Bandung awalnya berlangsung aman hingga sore sebelum berubah ricuh pada malam hari di Dago Cikapayang.

Tayang:
Diskominfo Kota Bandung
Sejumlah fasilitas publik rusak akibat ulah sekelompok orang yang mencemari peringatan Hari Buruh pada 1 Mei 2026. 
Ringkasan Berita:
  • May Day di Bandung awalnya berlangsung aman hingga sore sebelum berubah ricuh pada malam hari di Dago Cikapayang. 
  • Aparat berhasil mengendalikan situasi, meski kerusakan fasilitas publik cukup besar dan sejumlah pelaku diamankan. 
  • Enam tersangka yang mayoritas pelajar diketahui positif mengonsumsi obat terlarang saat melakukan aksi.

TRIBUNJABAR,ID, BANDUNG - Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day di Kota Bandung pada Jumat, 1 Mei 2026, semula berlangsung tertib tanpa gangguan berarti sejak pagi hingga menjelang petang.

Suasana kota tetap terkendali sepanjang rangkaian kegiatan siang hari. Namun, kondisi tersebut berubah drastis saat malam tiba, ketika kericuhan mulai terjadi di kawasan Dago Cikapayang yang diduga melibatkan kelompok Anarko.

Kepala Satpol PP Kota Bandung, Bambang Sukardi, memaparkan bahwa pengamanan dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan unsur TNI, Polri, serta berbagai instansi terkait lainnya. Proses pengamanan diawali dengan apel gabungan yang digelar di Polrestabes Bandung pada pukul 08.00 WIB sebagai bentuk kesiapan bersama.

“Sejak pukul 09.00 hingga 16.00 WIB personel gabungan melakukan pengamanan dan siaga di sekitar Gedung Sate dan DPRD Provinsi Jawa Barat. Situasi terpantau aman dan kondusif, belum ada pergerakan massa,” jelas Bambang, Sabtu 2 Mei 2026.

Memasuki sore hari sekitar pukul 16.30 WIB, aktivitas massa mulai terlihat di sekitar persimpangan lampu merah Gedung Sate dan DPRD. Sejumlah orang melakukan orasi, disertai aksi pembakaran ban yang sempat mencuri perhatian. Meski demikian, massa akhirnya membubarkan diri secara tertib tanpa eskalasi lanjutan saat itu.

Ketegangan mulai meningkat pada pukul 18.00 WIB di wilayah Dago Cikapayang. Bambang mengungkapkan, kelompok yang diduga bagian dari Anarko mulai melakukan tindakan anarkis, seperti membakar ban dan water barrier. Situasi semakin memanas ketika massa tambahan dari arah Jalan Tamansari bergabung, bahkan diduga melakukan sweeping serta membawa molotov.

KERUSUHAN - Polisi berjaga di Simpang Tamansari-Cikapayang saat terjadi aksi kerusuhan di Kota Bandung, Jumat (1/5/2026).
KERUSUHAN - Polisi berjaga di Simpang Tamansari-Cikapayang saat terjadi aksi kerusuhan di Kota Bandung, Jumat (1/5/2026). (Tribun Jabar/Hilman Kamaludin)

Sekitar satu jam kemudian, tepatnya pukul 19.00 WIB, aparat kepolisian dari Brimob bergerak cepat untuk mengendalikan situasi. Massa berhasil dipukul mundur, sementara tim pemadam kebakaran segera menjinakkan api agar tidak meluas. Secara bertahap, kondisi di lokasi kembali terkendali.

Dampak kericuhan juga dirasakan pada infrastruktur kota. Kepala Dinas Perhubungan Kota Bandung, Rasdian Setiadi, menyebutkan bahwa fasilitas lalu lintas di simpang Balubur Tamansari mengalami kerusakan cukup signifikan.

“Kerusakan meliputi lampu APILL serta box fiber optic node termination dan controller dengan estimasi kerusakan mencapai 75 persen atau sekitar Rp400 juta,” jelasnya.

Saat ini, Dishub tengah berupaya menjaga fungsi lampu lalu lintas tetap berjalan meskipun dalam keterbatasan, sambil menyiapkan proses perbaikan melalui anggaran pemeliharaan yang tersedia.

“Kami upayakan agar lalu lintas tetap berjalan dengan lancar pasca kerusuhan demo semalam meskipun kondisinya terbatas,” tuturnya.

Sementara itu, Kapolda Jawa Barat, Irjen Pol Rudi Setiawan, mengungkapkan bahwa sejumlah orang telah diamankan terkait peristiwa tersebut. Meski begitu, pihak kepolisian masih melakukan pendalaman terhadap identitas serta motif yang melatarbelakangi aksi tersebut.

“Kalau melihat ciri-cirinya saya menilai mereka mengarah ke kelompok Anarko dengan pakaian serba hitam dan wajah tertutup,” ujar Rudi.

KERICUHAN - Suasana di Simpang Tamansari-Cikapayang saat terjadi aksi kerusuhan di Kota Bandung, Jumat (1/5/2026).
KERICUHAN - Suasana di Simpang Tamansari-Cikapayang saat terjadi aksi kerusuhan di Kota Bandung, Jumat (1/5/2026). (Tribun Jabar/Hilman Kamaludin)

Ia menegaskan bahwa kericuhan tersebut tidak berkaitan dengan agenda resmi peringatan Hari Buruh di Bandung. Menurutnya, aksi yang terjadi tidak berisi penyampaian aspirasi, melainkan langsung berujung pada tindakan perusakan.

“Tidak ada pembicaraan menyampaikan pendapat atau memperjuangkan sesuatu. Yang ada justru pengerusakan,” tegasnya.

Pemerintah Kota Bandung pun mengajak seluruh masyarakat untuk ikut menjaga fasilitas umum yang menjadi milik bersama. Kerusakan yang terjadi tidak hanya berdampak pada pemerintah, tetapi juga langsung memengaruhi kenyamanan serta keselamatan warga.

Di sisi lain, aparat kepolisian menetapkan enam orang sebagai tersangka dalam kasus perusakan fasilitas publik yang terjadi di Jalan Cikapayang. Para tersangka yang diamankan mayoritas masih berstatus pelajar.

Hasil pemeriksaan juga menunjukkan bahwa mereka positif mengonsumsi obat-obatan terlarang. Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Pol. Hendra Rochmawan, mengungkapkan bahwa berdasarkan tes urine, para tersangka berinisial MRN (21), MRA (17), RS (19), MFNA (19), FAP (21), dan HIS (20) diketahui menggunakan obat keras jenis tramadol.

"Ini sangat memprihatinkan, selain melakukan aksi anarkis, para tersangka ini diketahui di bawah pengaruh obat-obatan terlarang jenis Tramadol saat beraksi. Terkait temuan ini, kasusnya juga ditindaklanjuti oleh Ditresnarkoba Polda Jabar," ujar Hendra, Sabtu (2/5/2026)

Selain itu, polisi juga menemukan berbagai jenis psikotropika dari salah satu tersangka berinisial MRN. Barang bukti tersebut berupa butiran Alprazolam, Mersi, Euforis, dan Risperidon.

Tak hanya itu, aparat turut mengamankan sejumlah barang yang digunakan dalam aksi, termasuk dua bom molotov, bahan bakar bensin, serta atribut kelompok tertentu seperti bendera bertuliskan "Punk Football Hate Cops" dan stiker "Jaringan Konspirasi Sel-Sel Api".

Hendra menegaskan bahwa pihak kepolisian akan mendalami kemungkinan adanya keterlibatan kelompok tertentu yang memanfaatkan para pelajar untuk melakukan aksi kekerasan tersebut.

"Kami akan melakukan pemeriksaan mendalam terkait asal-usul obat-obatan tersebut dan motivasi di balik simbol-simbol perlawanan yang mereka bawa."

"Kami mengimbau orang tua untuk lebih ketat mengawasi pergaulan dan aktivitas anak-anaknya agar tidak terjebak dalam pusaran anarkisme dan narkoba," ucapnya.

 

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved