Senin, 18 Mei 2026

Ramadhan 2026

Harga Daging Sapi Sentuh Rp 16 Ribu per Kg di Bandung, Lonjakan Diprediksi Menguat Jelang idulfitri

Di Kota Bandung sendiri, harga daging sapi telah menyentuh Rp160 ribu per kilogram sejak sebelum Ramadan tiba. 

Tayang:
Penulis: Nappisah | Editor: Seli Andina Miranti
Tribun Jabar/Nappisah
DAGING SAPI - Daging sapi saat dijajakan di Pasar Kosambi, Kota Bandung. 

Ringkasan Berita:
  • Harga daging sapi di Kota Bandung telah mencapai Rp160 ribu/kg sebelum Ramadan dan diprediksi terus naik hingga Idulfitri akibat ketidakpastian pasokan domestik dan dinamika impor 2026.
  • Produksi dalam negeri hanya memenuhi sekitar 45–46 persen kebutuhan daging nasional, sementara sisanya bergantung pada impor sapi bakalan dan daging beku.
  • Data Sensus Pertanian 2023 menunjukkan populasi sapi dan kerbau turun 17,2 persen dalam 10 tahun terakhir, diduga dipengaruhi wabah PMK sejak 2022.

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Lonjakan harga daging sapi diprediksi menguat saat Ramadan hingga menjelang Hari Raya Idul Fitri. 

Di Kota Bandung sendiri, harga daging sapi telah menyentuh Rp160 ribu per kilogram sejak sebelum Ramadan tiba. 

Pengurus Pusat Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi), Khudori, mengatakan, potensi kenaikan harga daging sapi dan kerbau menguat seiring ketidakpastian pasokan domestik serta dinamika impor pada 2026.

Baca juga: Pertengahan Bulan Puasa, Harga Daging Sapi Lokal di Pasar Rebo Purwakarta Tembus Rp140 Ribu/Kg

Menurut Khudori, selama ini kebutuhan daging ruminansia besar (sapi, kerbau, domba, kambing) di Indonesia dipenuhi dari dua sumber, yakni produksi dalam negeri dan impor.

Dikatakannya, impor dilakukan dalam bentuk sapi bakalan yang digemukkan 2,5–3 bulan sebelum dipotong, serta daging beku berupa daging sapi dan daging kerbau.

“Produksi domestik selama ini hanya menopang sekitar 45–46 persen kebutuhan nasional. Sisanya dipenuhi dari impor,” ujar Khudori, Selasa (3/3/2026). 

Ia merujuk data Sensus Pertanian 2023 yang mencatat populasi sapi dan kerbau dalam 10 tahun terakhir turun 17,2 persen, dari 14,23 juta ekor pada 2013 menjadi 11,79 juta ekor pada 2023. 

Dari jumlah tersebut, jelas dia, 11,32 juta ekor merupakan sapi potong dan sapi perah, sedangkan sisanya kerbau.

“Populasi sapi turun dari 13,1 juta ekor menjadi 11,3 juta ekor, sementara populasi kerbau turun dari 1,109 juta ekor menjadi sekitar 470 ribu ekor. Populasi sapi terbesar berada di Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara.” 

Adapun populasi kerbau terbanyak terdapat di Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, dan Aceh.

Khudori menyebut penurunan populasi diduga berkaitan dengan merebaknya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) sejak Mei 2022. 

Baca juga: Pantau Harga Bahan Pokok di Pasar Kosambi, Badan Pangan Nasional Soroti Harga Daging Sapi

Dia menuturkan, pada Januari 2026 dilaporkan sekitar 800 ekor sapi terpapar PMK. Pemerintah disebut mulai mendistribusikan 4 juta dosis vaksin PMK pada 2026 atau sekitar 33,9 persen dari total populasi sapi dan kerbau saat ini.

“Tanpa kejelasan jumlah populasi dan kemampuan produksi domestik memenuhi kebutuhan Ramadan dan Idulfitri, yang dipertaruhkan adalah kepastian pasokan,” katanya.

Ia menilai jika pasokan domestik tidak mencukupi, kenaikan harga menjadi konsekuensi mekanisme pasar. 

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved