Selasa, 5 Mei 2026

Bawa Semangat Bandung di Paris, Angie Go Serukan Solidaritas Global South Berbasis Pancasila

Menurut Angie, Konferensi Bandung 1955 yang dipelopori Soekarno menjadi tonggak penting kedaulatan negara-negara Asia-Afrika

Tayang:
Istimewa/Dok Angie Natasha
BERFOTO BERSAMA - Politisi PDI Perjuangan, Angie Natesha Goenadi Go (ketiga kanan) berfoto bersama sesuai hadir dalam konferensi internasional bergengsi bertajuk "The Rise of Asia 60 Years After Havana" yang digelar di Paris dan Le Havre, Prancis, pada 18-20 Februari 2026. 
Ringkasan Berita:
  • Angie Natesha Goenadi Go menjadi pembicara dalam konferensi internasional “The Rise of Asia 60 Years After Havana” yang digelar di Prancis.
  • Forum itu merefleksikan 60 tahun Konferensi Tricontinental Havana 1966 sekaligus menegaskan relevansi warisan Konferensi Asia-Afrika Bandung 1955.
  • Dalam makalahnya, Angie menyoroti pentingnya membangun kembali solidaritas negara-negara Global South di tengah tantangan geopolitik, ketergantungan ekonomi baru, kolonialisme digital, dan ketidakadilan iklim.

Laporan Wartawan TribunJabar.id, Nazmi Abdurrahman

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Semangat Konferensi Asia-Afrika kembali digaungkan di Eropa. Politisi PDI Perjuangan, Angie Natesha Goenadi Go, hadir sebagai pembicara dalam konferensi internasional “The Rise of Asia 60 Years After Havana” yang digelar di Paris dan Le Havre, Prancis, 18–20 Februari 2026.

Forum akademik yang diselenggarakan oleh Université Paris 1 Panthéon-Sorbonne dan Université Le Havre Normandie itu menjadi momentum refleksi 60 tahun Konferensi Tricontinental Havana 1966 sekaligus menegaskan kembali warisan Konferensi Asia-Afrika Bandung.

Di hadapan akademisi dan peneliti dari Asia, Afrika, hingga Amerika Latin, Angie mempresentasikan makalah berjudul “From Bandung to Havana: The 1966 Tricontinental Conference and the Evolution of Global South Solidarity”. 

Baca juga: Dari Gedung Bersejarah, Pemuda Indonesia Suarakan Gaza: Janji KAA yang Belum Tuntas

Angie menekankan pentingnya membangun kembali solidaritas negara-negara Global South di tengah fragmentasi geopolitik, ketergantungan ekonomi baru, kolonialisme digital, dan ketidakadilan iklim.

Global South adalah istilah geopolitik untuk menyebut kelompok negara-negara yang umumnya berada di Asia, Afrika, Amerika Latin, Karibia, dan sebagian Oseania, termasuk Indonesia, yang memiliki pengalaman sejarah kolonialisme serta tantangan pembangunan ekonomi.

Menurut Angie, Konferensi Bandung 1955 yang dipelopori Soekarno menjadi tonggak penting kedaulatan negara-negara Asia-Afrika. Prinsip Dasasila Bandung—menghormati kedaulatan, tidak mencampuri urusan dalam negeri, dan hidup berdampingan secara damai—menjadi benteng diplomasi di era Perang Dingin.

Namun, Angie menjelaskan, semangat itu mengalami pergeseran dalam Konferensi Tricontinental di Havana 1966. Solidaritas Asia-Afrika-Amerika Latin bergerak dari diplomasi netral menuju sikap lebih konfrontatif melawan imperialisme, terutama di tengah perang Vietnam dan tekanan Amerika Serikat terhadap Kuba.

“Di 2026 ini kita tidak perlu kembali ke konfrontasi permanen seperti 1966. Yang dibutuhkan adalah solidaritas produktif yang mendorong pembangunan ekonomi dan sosial bersama di Global South,” ujar Angie dalam keterangannya, Sabtu (21/2/2026).

Angie mendorong restrukturisasi tatanan internasional yang lebih adil berdasarkan prinsip Bandung, demi mencapai global common good melalui emansipasi, kesetaraan, dan kedaulatan bersama.

Dalam penutup paparannya, Angie menegaskan bahwa gagasan perdamaian dunia harus kembali pada visi Soekarno melalui Pancasila. Menurutnya, Pancasila menawarkan fondasi damai yang inklusif, menjunjung kemanusiaan, persatuan, demokrasi, gotong royong, keadilan sosial, dan perdamaian abadi.

Baca juga: Wabup Sumedang Tekankan Peran Pancasila dalam Keputusan Etis Mahasiswa

“Semangat Bandung lahir dari Indonesia, dan Pancasila adalah jawaban untuk membangun dunia yang berkelanjutan, adil, dan damai di abad ini,” katanya.

Konferensi tersebut diikuti ratusan peserta secara luring dan daring. Hadir pula Guru Besar St. Petersburg University Prof Connie Rahakundini Bakrie, diplomat senior Darmansjah Djumala, serta peneliti dan sejarawan Baskara Wardaya.

Kehadiran Angie dinilai menjadi pengingat bahwa warisan Bandung tetap relevan di tengah dunia multipolar yang terus berubah.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved