Senin, 18 Mei 2026

Longsor Besar di Cisarua

Gemuruh Besar dan Jerit Tangis, Kisah Keluarga Defrian Terjaga saat Longsor Cisarua Melanda

Rumah Defrian hanya berjarak sekitar 50 meter dari titik longsor Cisarua. Jarak yang sangat tipis antara keselamatan dan maut.

Tayang:
Tribun Jabar/Muhamad Nandri Prilatama
KORBAN LONGSOR - Defrian, bocah 10 tahun siswa kelas V Muhammadiyah yang tinggal di posko pengungsian Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Jarum jam menunjukkan pukul 02.30 WIB. Di tengah keheningan Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Bandung Barat, kegelapan terasa lebih pekat dari biasanya. Aliran listrik terputus, menyisakan sunyi yang mencekam. Namun, bagi Defrian, bocah laki-laki berusia 10 tahun, malam itu bukan tentang tidur nyenyak, melainkan tentang bertahan hidup.

Sabtu (24/1/2026), bumi seolah memberi peringatan. Defrian ingat betul bagaimana kedua orangtuanya terjaga dalam cemas. Getaran-getaran halus terus terasa dari balik lantai rumah mereka, pertanda bahwa bukit di dekat permukiman sedang tak baik-baik saja.

"Ibu dan bapak enggak tidur. Khawatir, karena terasa terus getarannya," kenang Defrian saat ditemui di posko pengungsian kantor Desa Pasirlangu, Minggu (25/1/2026).

Ketakutan itu menjadi nyata, ketika suara gemuruh besar memecah malam, disusul jerit tangis yang bersahutan di luar rumah. Dalam kegelapan total, dengan baterai ponsel orangtuanya nyaris habis, kabar duka merayap cepat.

"Ibu bilang yang di bagian kulon sudah rata," katanya lirih.

Di balik kepolosan wajahnya, terselip trauma malam itu yang gelap, dingin, dan suara orang-orang yang kehilangan segalanya. 

Rumah Defrian hanya berjarak sekitar 50 meter dari titik longsor. Jarak yang sangat tipis antara keselamatan dan maut. Meski rumahnya masih berdiri tegak, bayang-bayang longsor susulan membuat keluarganya tak berani pulang.

Baca juga: Air Mata di Pinggir Longsor Cisarua Bandung, Emak Waty Menanti Kabar Anak Cucunya yang Hilang

Kini, Defrian menjadi satu dari sekian banyak anak yang harus bertukar kenyamanan kamar dengan pengapnya aula kantor desa. Di sana, suasana jauh dari kata ideal. Suara tangis bayi pecah bergantian, bersaing dengan udara panas yang terjebak di ruangan sempit penuh sesak oleh ratusan nyawa.

Data sementara mencatat, lebih dari 30 rumah telah hilang ditelan bumi. Sebanyak 25 jenazah telah ditemukan, dengan 11 di antaranya telah teridentifikasi, sementara masih banyak tertimbun di sana dan dalam pencarian.

Meski dikepung kesedihan, Defrian sesekali masih terlihat riang, bercengkrama dengan anak-anak pengungsi lainnya di sela-sela kepadatan aula. Baginya, berada di posko adalah pilihan terbaim saat ini.

"Kami takut kalau-kalau ada kejadian susulan. Jadi, lebih baik di sini dahulu," ujarnya mantap.

SRI DEWI ANGGRAINI - Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Hj. Sri Dewi Anggraini saat meninjau lokasi longsor di Desa Pasrlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.
SRI DEWI ANGGRAINI - Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Hj. Sri Dewi Anggraini saat meninjau lokasi longsor di Desa Pasrlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. (Tribun Jabar/Dok Sri Dewi Anggraini)

Profil Desa Pasirlangu

Pasirlangu merupakan salah satu dari delapan desa yang berada di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Desa ini berada tidak jauh dari kaki Gunung Burangrang dan berjarak sekitar 23 kilometer dari pusat Kota Bandung dengan waktu tempuh satu jam.

Desa Pasirlangu memiliki luas sekitar 1.020 hektar dengan batas wilayah Gunung Burangrang di utara, Desa Cipada di barat, Desa Cimanggu (Kecamatan Ngamprah) di selatan, dan Desa Tugumukti di timur.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved