Rabu, 13 Mei 2026

Pakar ITB: Pembangunan Jalan Lingkar Padalarang Sulit Karena Kontur dan Batuan Kapur

Keberadaan jalan lingkar baru tersebut menjadi solusi yang sangat vital dalam permasalahan kemacetan di kawasan Padalarang-

Tayang:
Penulis: Ahmad Imam Baehaqi | Editor: Ravianto
TRIBUNJABAR.ID/HILMAN KAMALUDIN
JALAN LINGKAR - Lahan untuk pembangunan Jalan Lingkar Padalarang-Cipatat di Kabupaten Bandung Barat (KBB). Pakar dari ITB mengungkap sejumlah kendala pembangunan Jalan Lingkar Padalarang-Cipatat. 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat turun tangan dalam pembangunan jalan lingkar Padalarang-Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang sempat terhenti karena terkendala anggaran pembebasan lahan.

Keberadaan jalan lingkar baru tersebut menjadi solusi yang sangat vital dalam permasalahan kemacetan di kawasan Padalarang-Cipatat yang selama ini seperti tak kunjung tuntas.

Kepala Pusat Penelitian Infrastruktur dan Kewilayahan Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof Delik Hudalah, mengatakan, rencana itu selaras dengan arah pembangunan Bandung Raya, yakni ke barat dan timur sekaligus merupakan yang terberatnya.

Delik Hudalah adalah Guru Besar di bidang Perencanaan Metropolitan yang tergabung dalam kelompok keahlian perencanaan wilayah dan perdesaan, Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) ITB.

Menurut Delik Hudalah, pembangunan ke arah barat untuk menghubungkan Bandung Raya dengan Jakarta, sedangkan ke arah timur untuk akses menuju Jawa Tengah, dan secara historis ruas jalan nasional pun ke dua arah tersebut.

Sementara Jalan Lingkar Padalarang ini akan meneruskan proyek penyambungan Kota Baru Parahyangan ke Cipatat yang sudah berjalan sejak 2022.

Jalan yang dibangun KBP saat ini berhenti di Desa Cikande, Batujajar, Bandung Barat.

Jalan ini merupakan akses ke padang golf milik Kota Baru Parahyangan. 

"Kami melihat rencana pembangunan jalan lingkar Padalarang - Cipatat ini mungkin secara kebutuhan, karena kemacetan di daerah sana," ujar Delik Hudalah saat dihubungi melalui sambungan teleponnya, Selasa (19/8/2025).

Ia mengatakan, persoalan umum yang menjadi kendala dalam pembangunan Bandung Raya yang secara geografis bentuknya cekungan ialah ketika hendak membangun kawasan pinggirannya seperti halnya Padalarang-Cipatat.

Pasalnya, konturnya yang tidak datar membuat anggaran pembangunannya berpotensi membengkak mengingat butuh treatment khusus dari mulai pengurukan maupun pemapasan tanah, dan lainnya.

Terlebih, jika dilihat dari sisi permukiman maka Padalarang merupakan kawasan yang cukup padat, sehingga biaya sosial ekonomi dalam pembangunan jalan lingkar baru tersebut juga berpotensi cukup besar.

"Daerah Padalarang - Cipatat dulu di zaman purbanya itu batuan kapur, kondisi tersebut jelas memengaruhi stabilitas tanahnya, dan daerah berkontur juga harus dicek kondisi lingkungannya seperti apa," kata Delik Hudalah.

Ia menyampaikan, pengecekan kondisi lingkungan diperlukan untuk memastikan kawasan itu termasuk daerah rawan bencana atau tidak, dan membuat langkah mitigasinya apabila termasuk daerah rawan.

Pihaknya mengakui, biaya pembangunan jalan agar tidak rawan longsor maupun bencana lainnya memerlukan teknologi dan treatment khusus, dan dipastikan biayanya lebih tinggi dibanding biasanya.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved