Senin, 13 April 2026

Tren Hunian Bergeser, Generasi Muda Prioritaskan Desain dan Efisiensi

Pameran material dan teknologi hunian MPX Indonesia kembali digelar melalui agenda X-POINT Bandung 2026

Tribun Jabar/Putri Puspita Nilawati
Suasana pameran material dan teknologi hunian MPX Indonesia di 23 Paskal. 

Ringkasan Berita:
  • Pameran X-POINT Bandung 2026 digelar di 23 Paskal (12–15 Februari) dengan konsep B2C yang menyasar pemilik rumah dan Gen Z. 
  • Event Manager MPX, Antonius Yan Halim, menyebut tren hunian kini bergeser ke arah minimalis, estetik, dan ramah lingkungan. 
  • Diikuti 15 brand kurasi, pameran ini juga menghadirkan hybrid talk show bagi arsitek profesional sebagai sarana edukasi material berkelanjutan.

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pameran material dan teknologi hunian MPX Indonesia kembali digelar melalui agenda X-POINT Bandung 2026 pada 12–15 Februari 2026 di 23 Paskal Shopping Center.

Berbeda dari format sebelumnya yang cenderung business-to-business (B2B), kali ini pameran dirancang lebih dekat dengan masyarakat umum, termasuk generasi muda yang mulai mempertimbangkan kepemilikan rumah.

Event Manager MPX Indonesia, Antonius Yan Halim, mengatakan perubahan konsep tersebut berangkat dari pergeseran kebutuhan pasar, terutama meningkatnya minat konsumen individu terhadap informasi material, desain, hingga teknologi hunian.

“Jadi sebelumnya format acara kami itu expo B2B. Tapi setelah banyak komunikasi dengan brand, kami dengar kebutuhan mereka sekarang tidak hanya di market B2B, tapi sudah mulai ke B2C juga. Makanya kami berusaha menjembatani kebutuhan itu,” ujar Antonius di 23 Paskal, Jumat (13/2/2026).

Menurutnya, keputusan menggelar pameran di pusat perbelanjaan juga menjadi strategi agar akses informasi properti dan hunian lebih terbuka, termasuk bagi generasi Z yang cenderung mencari referensi secara langsung sekaligus kasual.

“Kalau dulu di hotel, yang datang arsitek atau pelaku proyek saja. Sekarang di mall bisa ketemu visitor yang lebih general, termasuk pemilik rumah atau calon pembeli,” katanya.

Antonius melihat adanya perubahan pola pikir generasi muda dalam memilih hunian. Faktor estetika tetap penting, namun kini diikuti kesadaran terhadap lingkungan dan efisiensi.

“Sekarang trennya lebih ke minimalis dan estetik. Kesadaran masyarakat juga sudah tinggi, mereka mulai cari tahu materialnya, apakah go green atau tidak,” ujarnya.

Selain desain, daya tahan material juga menjadi pertimbangan utama generasi muda, terutama pasangan baru yang ingin investasi hunian jangka panjang.

“Kalau soal perawatan, pasti harus pilih material yang durability-nya bagus, jangan yang satu-dua tahun sudah rusak,” tambahnya.

Sebanyak 15 brand nasional yang telah melalui proses kurasi ambil bagian dalam pameran. Produk yang dihadirkan beragam, mulai dari solar panel, sanitary, saklar listrik, pintu, hingga roller blind, jenis kebutuhan yang semakin sering dipertimbangkan pembeli rumah muda karena berkaitan dengan efisiensi energi dan estetika ruang.

Selain pameran produk, kegiatan ini juga menghadirkan hybrid talk show arsitektur yang disiarkan daring dan memiliki nilai Kredit Unit Mutu (KUM) bagi arsitek, dimana program tersebut diselenggarakan bersama Ikatan Arsitek Indonesia Jawa Barat.

“Selama empat hari ini acara kami padat, bukan cuma exhibition, tapi ada hybrid talk show yang disiarkan online. Pesertanya arsitek dan kelasnya dijual dalam bentuk webinar,” jelas Antonius.

Melihat tren tersebut, Antonius menilai generasi Z kini tidak sekadar mencari rumah sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai ruang hidup yang efisien, estetik, dan berkelanjutan. 

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved