Sabtu, 11 April 2026

PENDIDIKAN

Satu Menit Kenal Aerial Robotic, Kevin Sabet Medali Perak

PERNAH mencoba memainkan game Need For Speed dengan control motion di tablet android? Para penggemar game pasti merasakan susah-susah gampang

Penulis: Mega Nugraha | Editor: Darajat Arianto
Oleh Mega Nugraha

PERNAH mencoba memainkan game Need For Speed dengan control motion di tablet android? Para penggemar game pasti merasakan susah-susah gampang mengendalikan laju mobil di game itu dengan control motion. Karena gerakan kita mengayunkan tablet harus sesuai agar mobil berjalan stabil.

Itulah yang dilakukan Kevin Derrian Firdaus (15), siswa SMA Al-Masoem Rancaekek. Bedanya, bukan mobil yang dikendalikan, tapi aerial robotic.  Aerial robotic mirip dengan empat buah baling- baling. Bentuknya pun sangat besar, sekitar 3x6 meter dan beratnya hampir 10 kg. Laju kecepatan aerial robotic ini pun sangat cepat, yakni bisa melakukan 2.500 putaran dalam satu menit.

Berkat kepiawaiannya menerbangkan aerial robotic, Kevin diganjar medali perak pada lomba International Islamic Robot Olympic (IISRO) 2012 di Malaysia, beberapa waktu lalu. Lomba itu diikuti 200 peserta dari berbagai negara Islam di dunia.

Untuk mengemudikan aerial robotic ini, Kevin menggunakan tablet android yang dilengkapi kontrol untuk pesawat take off, landing bahkan menikung. Sedangkan di pesawatnya, disimpan wifi agar bisa dikontrol dari jarak hingga 100 meter menggunakan tablet android.

Jangan dikira mudah menggerakkannya, karena aerial robotic ini pesawatnya benar-benar nyata, bukan games. Kevin pun harus menerbangkan pesawat dengan sejumlah ketentuan. Misalnya, pesawat terbang dengan kecepatan 2.000 putaran/detik sambil melingkari sebuah tiang dengan membentuk angka 8.

"Pesawatnya hebat banget. Mirip di film-film scifi. Kalau mengendarai asal saja, tidak terlalu sulit. Tapi kalau menerbangkannya kemudian melingkari 2 tiang dengan membentuk angka 8, itu susah banget. Peserta lain bahkan ada yang menerbangkannya hingga menabrak penonton saat menikung melewati satu tiang," ujar Kevin, ketika ditemui Tribun di SMA Al Masoem, Jatinangor Kabupaten Sumedang, Rabu (30/5).

Sebelum direkomendasikan oleh SMA Al Masoem untuk pergi ke Malaysia, Kevin sama sekali belum tahu akan mengikuti lomba apa. Bahkan, untuk mengenal pesawat aerial robotic ini, Kevin hanya diberi waktu 1 menit. Setelah itu, Kevin langsung berkompetisi.

"Saya baru pertama kali menerbangkan pesawat ini dan rasanya hebat dan sangat keren. Pertama, saya menerbangkan dari gate 1. kemudian mulai mengitari satu tiang. Saat tikungan pertama, karena kecepatannya sungguh hebat, hampir tekor dan saya langsung menurunkan kecepatan kemudian menikung dengan perlahan-lahan. Setelah melewati putaran terakhir, saya mencoba menikung dengan nge-drift kemudian masuk ke gate dua," ujar Kevin.

Meski pertama menerbangkan pesawat dengan teknologi ini, kata Kevin, ia mengaku sudah menguasai ilmu dasar tentang robot. Selain itu, Kevin yang tertarik dengan ilmu nuklir ini sudah terbiasa juga bermain game. "Saya sering main game futuristik dengan control motion di tablet. Jadi, meski pesawat aerial robot ini terbilang canggih, saya bisa cepat menyesuaikan," ujar Kevin.

Kevin dikenal sebagai anak cerdas di kelasnya. Buktinya,  pendidikan tignkat SMP ia lalui hanya dua tahun. Begitu juga dengan SMA yang tengah dijalaninya. Padahal, Kevin sendiri menurut ayahandanya, jarang belajar. "Kalau Kevin diminta belajar atau baca buku, memang dia baca buku, tapi ketika saya cek kembali kamarnya, dia tidur tapi prestasinya tidak pernah anjlok," ujar Dadang Sugesti (50), ayahanda Kevin.

Dadang juga sering mendapat keluhan dari guru-guru Kevin bahwa selama di kelas, Kevin seringkali kedapatan jarang mendengarkan guru saat memberikan materi pelajaran.

"Kevin itu katanya di kelas suka menggambar saat guru memberikan materi pelajaran," ujarnya.

Menanggapi hal itu, Kevin pun tersenyum. Ia mengatakan, ia memang suka menggambar saat guru memberikan materi pelajaran. "Kalau saya menggambar, tapi telinga saya mendengar kok materi yang diberikan oleh guru. Makanya saya merasa tidak pernah ketinggalan dengan pelajaran dan bisa mengisi soal-soal ujian," kata Kevin.

Ganjar Taufik, staf Yayasan Pendidikan Al Masoem, mengatakan, meski Kevin belajar di SMA, pihaknya memberikan mata pelajaran yang ada di SMK. "Bahkan, di Al Masoem ada ekstrakurikuler robot, namanya Al Masoem Science Robotic (Ascik). Jadi, Kevin tidak asing lagi ketika mengikuti lomba IISRO," kata Ganjar yang menilai kecerdasan Kevin sebagai kecerdasan bawaan sejak lahir. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved