Kamis, 9 April 2026

IP Talks On Campus: Menepis Mitos Paten Harus Berteknologi Rumit

Analis Kekayaan Intelektual Ahli Utama Sri Lastami hadir pada acara IP Talks On Campus di Universitas Warmadewa pada 9 April 2026.

Istimewa
KEMENKUM JABAR - Analis Kekayaan Intelektual Ahli Utama Sri Lastami hadir pada acara IP Talks On Campus di Universitas Warmadewa pada 9 April 2026. 
Ringkasan Berita:
  • Invensi tak harus rumit untuk dipatenkan. Sri Lastami mencontohkan inovasi sederhana seperti sedotan berulir yang tetap memiliki nilai kebaruan tinggi dan bermanfaat.
  • Mahasiswa didorong memanfaatkan database paten sebagai referensi agar riset lebih efektif, inovatif, dan menghasilkan solusi nyata bagi masyarakat.
  • Kemenkum Jabar mengajak kampus mengubah hasil riset menjadi kekayaan intelektual terdaftar guna mendorong daya saing dan pertumbuhan ekonomi nasional.

TRIBUNJABAR.ID - DENPASAR - Invensi yang didaftarkan sebagai paten tidak selamanya lahir dari kerumitan tingkat tinggi. Analis Kekayaan Intelektual Ahli Utama Sri Lastami, menekankan hal tersebut saat membuka acara IP Talks On Campus di Universitas Warmadewa pada 9 April 2026.

"Terkadang solusi untuk masalah sederhana, seperti penemuan ulir pada sedotan agar lebih mudah digunakan, justru memiliki nilai inovasi yang besar," ujar Sri Lastami.

Semangat untuk melihat inovasi dari sisi sederhana inilah yang diharapkan dapat memicu 13.000 mahasiswa aktif di Universitas Warmadewa untuk mulai melahirkan kekayaan intelektual.

Lastami menilai, dengan meningkatnya produktivitas mahasiswa dalam melahirkan berbagai invensi akan menjadi mesin penggerak utama bagi institusi pendidikan untuk bertransformasi menjadi World Class University.

Guna mempermudah langkah tersebut, ia menyarankan agar para peneliti tidak lagi merasa terbebani untuk memulai riset dari nol. Pemanfaatan basis data paten yang sudah ada dapat menjadi referensi strategis untuk menemukan celah modifikasi atau pengembangan dari invensi terkini.

"Dengan cara ini, hasil penelitian di universitas akan memiliki nilai kebaruan yang kuat serta memberikan solusi nyata bagi masyarakat," tutur Lastami.

Lebih lanjut, ia mengajak audiens belajar dari pengalaman Jepang yang mampu menjadikan teknologi sebagai tulang punggung ekonomi meski memiliki keterbatasan kekayaan alam. Melalui kehadiran narasumber dari Japan International Cooperation Agency (JICA), Expert Inoue Kazutoshi, diharapkan muncul inspirasi untuk mengolah ide menjadi aset ekonomi yang memiliki daya saing global.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama Rektor Universitas Warmadewa, I Gde Suranaya Pandit menyampaikan apresiasi positif atas inisiatif kolaborasi yang dilakukan oleh DJKI di kampusnya. Ia menilai kegiatan edukasi seperti ini sangat penting untuk membuka cakrawala berpikir mahasiswa dan dosen mengenai pentingnya pelindungan karya intelektual di era kompetisi global.

"Kami berterima kasih atas terselenggaranya kegiatan ini dan berharap seluruh rangkaian diskusi yang diikuti oleh sivitas akademika hari ini dapat memacu semangat dalam menghasilkan inovasi-inovasi baru yang bermanfaat bagi masyarakat luas," ucapnya.

Sebagai informasi, rangkaian edukasi kekayaan intelektual ini akan terus berlanjut di Bali. Setelah Universitas Warmadewa, agenda IP Talks @Campus dijadwalkan akan menyambangi Universitas Udayana pada keesokan harinya untuk kembali memberikan literasi serupa kepada para mahasiswa dan peneliti setempat.

Merespons kampanye edukasi kekayaan intelektual di lingkungan kampus tersebut, Kepala Kantor Wilayah Kemenkum Jawa Barat, Asep Sutandar, memberikan apresiasi dan dorongan semangat bagi perguruan tinggi di wilayahnya.

"Kami di Kanwil Kemenkum Jabar sangat mengapresiasi dan sejalan dengan pesan edukasi yang disampaikan oleh DJKI dalam program IP Talks On Campus ini. Stigma bahwa paten itu mutlak harus berasal dari teknologi tingkat tinggi memang harus dipatahkan. Jawa Barat merupakan salah satu episentrum pendidikan nasional dengan puluhan perguruan tinggi unggulan dan ratusan ribu mahasiswa”. 

“Inovasi-inovasi terapan yang sederhana, modifikasi teknologi tepat guna dari tugas akhir mahasiswa, atau penelitian dosen sesungguhnya memiliki potensi paten yang luar biasa. Kami senantiasa mendorong dan siap memfasilitasi sivitas akademika di seluruh Tatar Pasundan untuk tidak ragu mencatatkan karya dan mendaftarkan invensinya.

Mari ubah hasil riset kampus dari sekadar tumpukan kertas menjadi aset kekayaan intelektual yang terlindungi secara hukum dan mampu menjadi motor penggerak ekonomi bangsa," tegas Asep Sutandar.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved