ITB Gelar PRIMA and CEO Summit, Fokus Dorong Deep-Tech dan Manufaktur Hijau ke Industri
Tingkat komersialisasi riset akademik masih rendah sehingga diperlukan mekanisme penghubung untuk menjembatani kesenjangan Valley of Death
Penulis: Nappisah | Editor: Muhamad Syarif Abdussalam
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Fauzan Adziman, menegaskan kolaborasi hilirisasi Government–Industry–University (GIU) menjadi strategi kunci untuk mendorong riset terapan di Indonesia.
Pasalnya, tingkat komersialisasi riset akademik masih rendah sehingga diperlukan mekanisme penghubung untuk menjembatani kesenjangan Valley of Death antara luaran riset dan kebutuhan pasar.
"Selain itu, dilakukan pengujian kelayakan produk untuk memastikan hasil riset memenuhi standar industri, siap diaplikasikan di masyarakat, serta layak diadopsi oleh dunia usaha," ujarnya, secara virtual dalam acara, PRIMA dan CEO Summit di ITB Innovation Park Bandung Teknopolis, Senin (15/12/2025).
Dikatakan Fauzan, pendekatan hilirisasi dijalankan melalui industry pull dan technology push.
"Riset diarahkan menjawab kebutuhan nyata industri, sekaligus mengkurasi produk unggulan perguruan tinggi hingga siap dipasarkan bersama mitra industri,” ujarnya.
Pada sektor deep tech, penguatan dilakukan melalui pelatihan lanjutan pengajuan kekayaan intelektual serta insentif bagi paten berlisensi yang berdampak nyata.
Ekosistem diperkuat lewat kemitraan multipihak yakni industri, kementerian/lembaga, pemerintah daerah, hingga mitra internasional dengan dukungan pendanaan terintegrasi melalui Industry Matching Fund, LPDP, Kedaireka, dan partisipasi industri.
Dia membeberkan, sepanjang 2022–2024, tercatat 2.724 kolaborasi GIU dengan 2.110 mitra industri.
Adapun nilai kolaborasi mencapai Rp2,6 triliun, dengan porsi pendanaan 45 persen dari pemerintah dan 55 persen dari industri.
Sejalan dengan agenda tersebut, Institut Teknologi Bandung (ITB) menyelenggarakan PRIMA dan CEO Summit 2025 pada 15–16 Desember 2025 di ITB Innovation Park Bandung Teknopolis serta Aula Timur dan Barat Kampus Ganesha.
PRIMA menampilkan hasil riset, inovasi, dan pengabdian masyarakat dari berbagai direktorat serta 12 fakultas/sekolah ITB, baik melalui booth fisik maupun virtual gallery.
Direktur Kawasan Sains dan Teknologi ITB, Ir. R. Sugeng Joko Sarwono, M.T., Ph.D., menjelaskan bahwa ITB Innovation Park merupakan kawasan Science Techno Park (STP) ITB yang berada di luar kampus utama.
Ke depan, kawasan ini diharapkan dapat berkembang menjadi kampus kelima ITB dalam kerangka multikampus.
“STP ini dirancang sebagai pusat interaksi ITB dengan sivitas akademika, komunitas, masyarakat, industri, dan pemerintahan, dengan fokus pada kegiatan hilirisasi. Di kawasan ini tersedia fasilitas laboratorium yang dapat dimanfaatkan bersama untuk mendorong kolaborasi riset dan inovasi,” ujarnya.
| Akulturasa ITB Hadirkan Inovasi Pangan, Dorong Pertumbuhan Ekonomi dan UMKM |
|
|---|
| Dorong Hilirisasi Kuliner Jabar, Riset Fermentasi ITB Bakal Dipamerkan di Festival Akulturasa |
|
|---|
| UMKM Tak Cukup Andalkan Produk, Digital Marketing Kini Jadi Penentu Penjualan |
|
|---|
| Diaspora Indonesia Kenalkan Exodus di Bandung, Teknologi Terapi Regeneratif untuk Penyakit Berat |
|
|---|
| Rumah Amal bersama Masjid Salman ITB Salurkan Hewan Kurban ke Pelosok Hingga Wilayah Bencana |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Diskusi-panel-PRIMA-dan-CEO-Summit-di-I.jpg)