Jumat, 8 Mei 2026

Argo Bromo Seruduk KRL di Bekasi

Melaju 120 Km/Jam, KA Argo Bromo Anggrek Tak Kuat Rem Mendadak dalam Tragedi Bekasi

Komunitas Edan Sepur sebut KA Argo Bromo Anggrek melaju 110-120 km/jam saat laka maut di Bekasi Timur. Masinis mustahil rem mendadak.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Putri Puspita Nilawati | Editor: Ravianto
Istimewa/Wartakota/X TMC Polda Metro Jaya
TAKSI DITABRAK KRL: Commuter Line atau KRL menabrak taksi online di pelintasan kereta kawasan Bekasi Timur, Senin (27/4/2026) malam sebelum terjadi laka maut 14 orang tewas. Komunitas Edan Sepur sebut KA Argo Bromo Anggrek melaju 110-120 km/jam saat laka maut di Bekasi Timur. Masinis mustahil rem mendadak di kecepatan tinggi. 

Ringkasan Berita:
  • Kecepatan Tinggi: KA Argo Bromo Anggrek dilaporkan melaju dengan kecepatan rata-rata 110 hingga 120 kilometer per jam di lintas Bekasi-Cikarang saat insiden terjadi.
  • Fisika Pengereman: Dengan kecepatan di atas 100 km/jam dan membawa rangkaian 12 kereta, masinis secara teknis memiliki keterbatasan ruang dan waktu untuk melakukan pengereman mendadak.
  • Faktor Headway: Padatnya jadwal perjalanan (headway) yang hanya berselang 5-10 menit antar-kereta memperkecil ruang antisipasi.

TRIBUNJABAR.ID, BEKASI - Kecelakaan beruntun yang melibatkan kereta rel listrik (KRL) lintas Jakarta–Kabupaten Bekasi dan kereta api jarak jauh Argo Bromo Anggrek relasi Jakarta–Surabaya menjadi sorotan serius berbagai pihak. 

Insiden tersebut diduga bermula dari sebuah taksi listrik yang mogok di area perlintasan hingga akhirnya memicu rangkaian tabrakan beruntun yang berdampak luas.

Koordinator Daerah 2 Bandung Raya Komunitas Edan Sepur, Abdullah, menyampaikan duka cita mendalam atas peristiwa tersebut. 

Ia mengatakan, sejak awal kejadian pihaknya langsung berkoordinasi lintas sektor dengan sejumlah pihak, mulai dari instansi perkeretaapian hingga layanan tanggap darurat.

“Pertama-tama kami turut berduka cita atas musibah ini. Kami juga langsung berkomunikasi dengan berbagai pihak, termasuk teman-teman di instansi terkait dan layanan darurat, untuk memahami kronologi serta penanganannya,” ujar Abdullah saat ditemui Tribun Jabar di Balai Kota Bandung, Jalan Wastukencana, Selasa (28/4/2026).

Berdasarkan informasi yang dihimpun komunitas, kecelakaan bermula ketika sebuah taksi listrik hijau mengalami mogok di tengah jalur. 

Baca juga: Benarkah Medan Magnet Rel Picu Mobil Listrik Mogok di Laka Maut Bekasi? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Di saat bersamaan, KRL yang melintas dari arah Jakarta menuju Bekasi tidak dapat menghindari tabrakan dengan kendaraan tersebut.

Situasi menjadi semakin kompleks karena pada waktu yang hampir bersamaan, terdapat perjalanan KRL lain dari arah berlawanan menuju Cikarang. 

Di belakang rangkaian tersebut, melaju kereta api Argo Bromo Anggrek dengan kecepatan tinggi.

“Ketika kejadian pertama terjadi antara taksi dan KRL, di jalur yang sama terdapat rangkaian lain dengan jarak atau headway yang sangat dekat, sekitar lima sampai sepuluh menit. Di belakangnya ada Argo Bromo Anggrek yang melaju cukup cepat, sehingga risiko tabrakan lanjutan menjadi sangat besar,” jelasnya.

EVAKUASI BANGKAI - Proses pembersihan bangkai kereta akibat kecelakaan KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, Selasa (28/4/2026).
EVAKUASI BANGKAI - Proses pembersihan bangkai kereta akibat kecelakaan KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, Selasa (28/4/2026). (Tribunnews.com/M Alivio Mubarak Junior)

Abdullah menilai, kombinasi antara headway yang padat dan kecepatan kereta yang tinggi menjadi faktor krusial yang memperparah dampak kecelakaan. 

Ia menyebut, Argo Bromo Anggrek melaju dengan kecepatan rata-rata 110 hingga 120 kilometer per jam, khususnya di lintasan Bekasi hingga Cikarang.

Dalam kondisi tersebut, masinis memiliki keterbatasan untuk melakukan pengereman mendadak.

“Kereta tidak bisa berhenti secara tiba-tiba, apalagi dengan kecepatan di atas 100 kilometer per jam. Saya yakin masinis sudah berupaya maksimal untuk menghindari tabrakan, namun secara teknis memang sangat sulit,” katanya.

Ia menjelaskan, Argo Bromo Anggrek merupakan kereta api jarak jauh dengan rangkaian lokomotif yang menarik sekitar 12 kereta, terdiri dari kereta pembangkit, kereta makan, dan kereta penumpang. Kereta ini juga termasuk generasi baru dengan berbagai fitur keselamatan modern, seperti pintu otomatis dan sistem keamanan berbasis standar tinggi.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved